RAJAKELANA : Menjalani hidup dengan Jujur dan “Ngehe” ala Mondo Gascaro

dsc01891

Mondo Gascaro – Rajakelana

Seringkali kita terjebak dalam konsekuensi atas pilihan yang kita buat sendiri. Sadar tidak sadar semua sudah terjadi dan kini menjadi ukiran sejarah dalam hidup kita. Senang tidak senang kita jalani. Kini, pilihannya hanya dua : terus jalani hidup dalam zona nyaman, menjadi buntut sang naga, menjalani drama gelap nan rumit tanpa ujung atau melangkah maju ke pintu keluar meski harus melewati jalur labirin gelap penuh resiko dan hanya berharap suatu ketika kita akan mencapai titik terang di ujung .

Dengan dua pilihan yang nampak tak pasti ini, sesungguhnya pegangan apa yang kita miliki dalam memilih? Dasar apakah yang kita pakai dalam memilih begitu banyak bisikan manusia yang terus bergulir? Apakah itu Sanubari? Sanubari yang telah lama tertidur . Sanubari yang lama bersembunyi meski kini tersirat makna jika kita resapi. Akankah sanubari esok akan kembali meyakinkan kita dengan asa-asanya? Akankah semesta mendengar nestapa dan menopang? Akankah itu sanubari yang menyambut saat kita mencapai ujung labirin ini?

Mondo Gascaro, sosok pendiam yang lebih dikenal lewat karya-karyanya pada band Sore, Payung Teduh, Noh Salleh (Malaysia) dan beberapa karya musik popular lainnya, lewat album Rajakenala ,seperti biasa, berhasil memainkan emosi dan merangsang imajinasi pendengarnya untuk seakan-akan ikut melayang-layang dan menjalani narasi yang telah disiapkan pada tiap-tiap tracknya.

Sejak pertama kali kita menekan tombol play pada track pertama (Naked), Mondo seakan mendorong kita masuk ke wormhole, mempercepat semua pengalaman berjalan melalui labirin gelap yang mungkin ia tak akan pernah mau ceritakan, melahirkan kita kembali sebagai indvidu dan menjatuhkan diri kita ke pinggiran pantai tropis dengan selamat.

1 menit suara ombak, dayuan angin dan instrument tropis pembuka seakan menyambut kita yang baru saja terbangun dari mimpi buruk lama kita dengan hangat. Bak individu yang merindukan kedamaian hidup, kini kita merasakan rasa-rasa itu (free, peaceful dan content), perasaan yang kita tidak pernah tahu ada dan hanya kita rasakan sesaat kita melangkah keluar dari labirin gelap. Nikmat apa lagi yang kini kita impikan? Rencana apa yang akan kita lakukan dengan kebebasan yang ada ini?

Bagi Mondo pilihannya sudah jelas. Mengutip jawabannya saat ia ditanya singkat oleh moderator pada acara Kaya Lewat Muzik (KLAZIK) 25 Juni 2015 di kampus London School Public Relation: Jalanin, jujur dan ngehe (dalam artian karya terbaik)! Dan itu lah yang ia coba gambarkan pada track kedua A Deacon’s Summer.

Tanpa basa basi, lagu ini mengajak pendengar untuk hidup to the fullest sesuai versi masing-masing. Bagi Mondo, versinya adalah terus berkarya, termasuk berkarya solo. Meski banyak yang menggangap keputusan yang ia ambil baru baru ini tidaklah bijak mengingat pencapaian yang ia telah capai dengan band sebelumnya dan lain-lain. Namun well it’s time to roll menurut Mondo. It’s never too late now untuk memulai serba baru sebagai selebrasi terhadap hidup yang ada. Apa lagi dengan kehadiran Sarah, istri Mondo, Mondo seakan mendapatkan energi baru dalam kehidupannya. Seperti yang pernah digambarkan dalam artikel Saturday Light : Selebrasi Kehidupan dan Romantisme Mondo Gascaro yang mencoba melihat sisi romantis dan kreatif Mondo. Ini kehidupan baru yang serius namun fair untuk dinikmati versi Mondo? Mungkin saja.

Yang menarik juga dari album ini adalah banyaknya elemen alam. Sebut saja dari judulnya yang kental dengan elemen angin, cover yang menggambarkan ombak, suasana angin, gambaran sinar matahari, gambaran situasi hujan dan lain-lain. Apakah kebetulan? Mengenal Mondo, sepertinya tidak. Apakah dibuat tanpa sadar? Mungkinkah ini bentuk ekspresi dan apresiasi hidup yang lebih bebas dan nyata. “Life is so real…” seperti sepenggal syair pada lagu Rainy Days on the Sidewalk.

Setelah menanti lama, album ini memberikan suguhan yang nikmat. Apa lagi  tahu bahwa karya ini adalah karya yang sungguh-sungguh dipikirkan dan dikerjakan dengan semangat yang luar biasa.

Dengan materi yang beragam (beragam genrenya, ceritanya, nuansanya dan intepretasinya) dan kolaborasi yang tidak biasa dalam album Rajakelana, akankah album Rajakelana dapat menjadi album penutup tahun 2016 yang paling diminati? Akankah album Rajakelana dapat menjadi album yang membuktikan eksistensi dan kreatifitas Mondo yang tanpa batas? Akankah album ini menjadi bukti bahwa Mondolah sang potongan puzzle yang hilang dari performa-performa live band yang dulu ia ikuti? Kita lihat.

Siapkan Headset dan play sesuai urutan. Enjoy!

Lagu fav selain Deacon’s Summer : Naked, Sanubari, Rainy days  on the sidewalk dan Lamun Ombak.

Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Sukses selalu.

 

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s