Melihat Kerbau Lebak, Ingat Saijah (Karakter dalam Max Havellar)

Kerbau-Kerbau di Kebun Karet (Felix Kusmanto)

Kerbau-Kerbau di Kebun Karet, Lebak (Felix Kusmanto)

Saijah yang berumur tujuh tahun sangat mencintai kerbaunya.

Celakanya, kerbau kesayangannya dirampas oleh penguasa karena Pak Saijah, ayahnya, tak dapat melunasi pajak tanah.

Saijah khawatir, pada masa mendatang tak ada lagi teman yang bisa diajak mengerjakan tanahnya. Lalu apa yang bisa mereka makan?

Melihat hal itu kemudian Pak Saijah menjual keris pusaka, warisan ayahnya. Tidak terlalu bagus, namun berkat sarungnya yang berikat perak, keris itu laku 24 gulden. Dengan uang itu, Pak Saijah membeli kerbau lagi.

Saijah amat mencintai kerbau barunya tersebut dan sebaliknya si kerbau amat setia kepada si kecil Saijah. Apa pun yang diperintahkan Saijah, kerbau itu selalu menurutinya. Suara Saijah memberinya tenaga untuk membelah tanah dengan bajaknya.

Sayang, kerbau tercinta ini kembali dirampas penguasa. Alasannya sama.

Pak Saijah lalu menjual lagi warisan orang- tuanya. Dengan uang 18 gulden, Pak Saijah membeli kerbau baru lagi.

Saijah tak segera jatuh cinta pada kerbaunya yang baru. Ia masih teringat kerbaunya yang lama, dan sedih, jangan-jangan kerbau kesayangan itu disembelih orang di kota.

Namun, lama-lama Saijah menyayangi juga kerbaunya yang baru, apalagi, kata Pak Penghulu, kerbau baru itu punya user-useran yang akan membawa rezeki.

Suatu hari Saijah dan kawan- kawannya menggembalakan kerbau-kerbau mereka. Tiba-tiba terdengar suara auman macan. Anak-anak itu menyengklak kerbaunya, memacunya untuk segera lari. Saijah juga segera melompat ke punggung kerbaunya. Malang ia terpelanting dan jatuh ke tanah. Si kerbau segera melindunginya. Ketika macan mendekat hendak menerkam Saijah, kerbau itu menanduk perutnya.

Macan terkapar dan mati. Kerbau itu terluka dan ibu Saijah merawat luka-lukanya karena kerbau itu telah menyelamatkan nyawa anaknya.

Sayang, lagi-lagi kerbau itu dirampas penguasa. Alasannya sama.

Pak Saijah menggarap sawahnya dengan kerbau sewaan. Hati Pak Saijah sedih karena tidak mempunyai kerbau sendiri. Tak lama kemudian, ibu Saijah juga meninggal karena sedihnya, dan hilangnya kerbau itulah awal dari penderitaan yang kemudian dialami oleh Saijah.

Tulisan merupakan sepenggal cerita (dengan potongan di beberapa bagian) dalam buku Max Havellar karya Multatuli

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s