Alasan Kenapa 90% Strategi Tidak Tereksekusi

“Eh yang mana yang lebih bagus ya? Strategi yang bagus banget tapi eksekusinya memble atau strateginya yang biasa aja tapi eksekusinya mantab?”

Seorang konsultan pada umumnya akan dengan mudahnya meresponse “ya yang pasti idealnya kita harus mempunyai strategi yang bagus dan juga eksekusi yang bagus”. Namun ironisnya mengeksekusi secara tepat, cepat dan menghasilan sesuatu dari sebuah rencana (ataupun rencana yang sangat baik) adalah hal yang paling susah dilakukan. Kata lainnya, “lebih mudah ngomongnya daripada lakuinnya” atau juga “lu gampang ngomongnya, lah gue yang jalanin? RIBET”.

Hasil penelitian menunjukan bahwa 90% dari strategi banyak tidak tereksekusi. Hal ini sangat memprihatinkan, apalagi jika ditelaah lebih jauh, 90% dari strategi itu TIDAK TEREKSEKUSI dan bukannya TIDAK DAPAT DIEKSEKUSI. Artinya dalam sebuah sistem diperusahaan ada sesuatu yang hilang sehingga strategi yang ada tidak tereksekusi.

Namun demikian itulah unsur seni dalam  manajemen dan menjalankan sebuah usaha yang ibarat sebuah kapal. Semakin besar usahanya, semakin besar kapalnya. Semakin besar kapalnya, semakin besar sistem dan banyak kepala yang harus dirangkul untuk diajak sehati, sepikiran dan sejalan.

Dari pengalaman dan juga pengamatan saya terhadap berbagai sektor industri di Indonesia maupun di Malaysia, ada beberapa faktor yang menyebabkan strategi tidak tereksekusi. Pertama, ada gap atau jarak antara si perumus strategi (si otak) dan si pelaksana (si tubuh), kedua tidak adanya komitmen dalam menjalankan apa yang telah direncanakan dan ketiga tidak adanya sebuah keadaan yang mendesak

Si Otak dan Si Tubuh Harus Nyambung

Faktor pertama yang saya amati adalah tidak nyambungnya si otak dan si tubuh. Dalam organisasi, baik swasta maupun pemerintah, si otak umumnya adalah para pembuat keputusan atau strategi yang berada di manajemen atas sedangkan si tubuh adalah para tim pelaksana yang biasa ada di posisi manajemen tengah ataupun bawah. Kata lainnya tidak adanya keselarasaan antara pembuat keputusan dengan para eksekutor.

Dalam kenyataan di lapangan, banyak pembuat keputusan yang lebih menyukai berdiskusi dengan para konsultan yang dibayar mahal untuk merumuskan strategi tahunan ataupun strategi jangka panjang tanpa berdiskusi secara intensif dengan para eksekutor yang sebenarnya ada di garis paling depan. Dengan situasi seperti ini, tidak heran jika banyak keputusan ataupun strategi hanya dipahami oleh orang di manajemen atas, para eksekutor bahkan sering tidak terberdayakan dan cenderung terabaikan. Hal ini sesuai dengan apa yang Neilson, Martin dan Powers (2008) jelaskan, bahwa komunikasi informasi dan keikutsertaan dalam membuat keputusan adalah hal penting yang sering terlupakan.

Pada bulan-bulan awal pada umumnya strategi dan para eksekutor masih berapi. Namun seiring berjalanya waktu, perubahan akan mulai muncul. Mulai dari menurunya moral eksekutor hingga kepuasan bekerja. Alhasil? Performa menurun dan kemungkinan untuk sang eksekutor keluar muncul (banyak juga yang diam, dan makan gaji buta. Yang repot siapa? Pengusaha). Saya pernah melihat bagaimana sebuah perusahan yang bergerak di sektor Migas turun peringkat akibat mandeknya eksekusi strategi yang ada dan bagaimana sang eksekutor menjadi tidak bekerja dengan maksimal meski gaji terus mengalir. Moral? Sudah jelas jatuh meski harapan terhadap perusahaan tetap ada. Harapan? tetap ada, mereka terus berharap keadaan menjadi semakin baik.

Ribet? Belum! Jangan lupa saat ini struktur organisasi mulai diisi oleh orang-orang muda yang mempunyai cara kerja berbeda dengan orang-orang yang lebih dahulu bergabung. Hal ini membutuhkan pendekatan yang berbeda tentunya, termasuk cara berkomunikasi (langsung dan segera), membuat keputusan (diajak ikut serta) ataupun juga memberikan penghargaan (uang bukan segalanya).

Disiplin = Konsisten

Faktor kedua adalah tidak adanya disiplin. Disiplin dalam hal ini tidak hanya disiplin ikut aturan namun juga disiplin dengan konsisten terhadap target yang dibuat, konsisten memperbaiki strategi berdasarkan situasi terkini, konsisten mengikutsertakan semua pihak dalam mencapai target dan juga konsisten untuk dapat mempertanggung jawabkan apa yang telah dicapai.

Ini yang menurut saya disiplin yang perlu lebih sering diterapkan di perusahan. Empat disiplin ini dapat dibaca dan dipahami lebih lanjut dalam buku The Discipline of Business Execution sabeten Covey, Huling dan McChesney (2013). Saya dengar dari tim mereka yang ada di jakarta, buku ini sudah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia agar mudah dipahami oleh pembaca indonesia.

Tidak ada lagi “Santai Aja, Masih Bisa Besok”

Faktor ketiga menurut versi saya adalah perlunya sebuah keadaan yang mendesak. John Kotter dalam bukunya Our Iceberg is Melting mendeskripsikan keadaan yang mendesak sebagai platform yang terbakar. Bayangkan jika kita berada di lantai yang sedang terbakar, pasti! kita dengan segera berpikir dan menjalankan strategi bagaimana menyelamatkan diri dari situasi terdesak ini.

Suatu ketika saya mendapat kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah institusi besar yang didukung penuh oleh pemerintah untuk melakukan sebuah perubahan besar masyarakat masih tetap bekerja secara santai tanpa memahami bagaimana seharusnya bekerja. MEREKA HARUSNYA BEKERJA DENGAN CEPAT, TEPAT dan PRODUKTIF.

Intinya semua strategi harus punya batas waktu. Dan semua pihak perlu dimintai pertanggung jawabannya terhadap batas-batas waktu yang telah disepakati itu. Tanpa adanya batas waktu sebuah pekerjaan ataupun strategi hanyalah sebuah hal sepele.

Diatas adalah pendapat pribadi saya, masih banyak penjelasan lain yang mungkin sesuai dengan situasi anda.

Siapkah anda di 2014 ini?

Semoga tulisan saya membantu.

Felix Kusmanto

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s