Eko Mulyadi, Dari “Kampung Idiot” Ponorogo Untuk Indonesia

Bagi Masyarakat Indonesia pada umumnya, nama Ponorogo bukanlah hal yang asing lagi. Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Timur ini sudah lama dikenal sebagai “tuan rumah” dari kesenian pertunjukan Reog Ponorogo dan basis berbagai pondok pesantren, salah satu yang terkenal adalah Pondok Modern Darussalam Gontor, yang terletak tidak jauh dari Kota Ponorogo sendiri, tepatnya di desa Gontor.

Disamping dikenal sebagai tujuan pendidikan dan juga wisata, Kabupaten Ponorogo juga dikenal sebagai lokasi produksi berbagai komoditas pertanian-perkebunan (Tembakau, Kakao, Tebu, Kopi dan cengkeh) dan juga pusat perdagangan-jasa.  Dengan potensi tersebut dan juga infrastruktur yang memadai (akses jalan aspal, akses informasi, akses listrik, bangunan pasar permanen dan mini market, akses simpan pinjam dan kehadiran sektor manufaktur) tidak mustahil Kabupaten Ponorogo bisa menjadi kabupaten yang masuk ke dalam sepuluh besar kabupaten/kota terbaik se-Jawa Timur.

Namun sayangnya, potensi yang ada ini belum dapat digarap seluruhnya dan membawa kesejahteraan yang merata sesuai dengan janji dan jaminan dari pemerintah meskipun strategi percepatan dan penanggulangan kemiskikan di Kabupaten Ponorogo telah dicanangkan. Sebagai buktinya, statistik dari Peta Kemiskinan Dompet Dhuafa 2010 menunjukan bahwa terdapat 161,634 orang (18.89% penduduk) di kabupaten Ponorogo yang berhak menerima zakat atau infak / sedekah karena tidak mempunyai penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan makan, pakaian, perumahan dan kebutuhan primer lain bagi diri sendiri maupun keluarga yang menjadi tanggung jawab.

Mengejutkan? Tidak. Hal diatas sangatlah mungkin terjadi mengingat jomplangnya harga bahan-bahan pokok di Jawa Timur dibandingkan dengan  jumlah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Ponorogo sendiri yang berjumlah Rp. 924.000 (Urutan ke 32 dari 36 Kabupaten di Jawa Timur). Dari sudut pandang Garis Kemiskinan Kabupaten Ponorogo juga selalu berada kurang lebih 20 persen dibawah Garis Kemiskinan rata-rata Jawa Timur (Per September, 2012 Garis Kemiskinan rata-rata Jawa Timur adalah Rp 243,783 /Kap/Bulan).

Dari “Kampung Idiot” Menjadi Kampung Pioner

Buruk? Situasi umum diatas jauh lebih baik jika dibandingkan dengan situasi di dusun Tanggung Rejo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong Ponorogo, 23 km dari pusat kota Ponorogo!

Dusun Tanggung Rejo atau yang biasa dikenal  warga sekitar sebagai “Kampung idiot / Tunagrahita” berdiri di tanah tandus kering kawasan lereng gunung kapur. Dengan situasi alam seperti ini jelas warga dusun tersebut tidak mungkin dapat menggerakan ekonomi mereka dengan cara bertani atau berkebun. Tidak tersediannya koperasi simpan pinjam dan pasar untuk menggerakan ekonomi masyarakat juga memperburuk situasi di dusun ini. Alhasil banyak warga dusun ini masuk kedalam lubang kemiskinan yang lebih dalam dibanding didaerah lain di Kabupaten Ponorogo.

Tercatat 290 Kepala Keluarga (KK) di dusun ini hidup dibawah Garis Kemiskinan kabupaten Ponorogo dan 561 KK hidup hampir miskin. Parahnya lagi akibat tekanan ekonomi dan mahalnya bahan-bahan pokok di dusun ini, banyak dari warga di dusun ini menjadikan nasi Gaplek atau tiwul sebagai makanan utamanya selama bertahun-tahun, alhasil, banyak dari warga mengalami masalah gizi buruk yang konon menjadi penyebab retardasi mental* yang turun temurun di dusun ini.

Dari jumlah populasinya, penyandang Tunagrahita di dusun ini memang terus meningkat. Saat ini terdapat 48 KK dengan total 98 orang menyandang Tunagrahita. Jumlah ini mengalami peningkatan dari 69 orang di tahun 2011.

Seperti layaknya komunitas Tunagrahita lainnya, warga Tunagrahita di dusun ini juga mempunyai berbagai tantangan  dan hambatan untuk menjadi insan yang mandiri layaknya orang pada umumnya. Sebagai contoh, warga Tunagrahita di dusun ini tidak dapat mendapat pekerjaan karena keterbatasan fisik, kemampuan kognitif dan rasa minder yang dimilikinya meskipun sesungguhnya mereka masih relatif muda atau dalam masa-masa usia produktif. Alhasil warga Tunagrahita ini terus dilihat sebagai beban keluarga dan lingkungan dusun ini.

Namun demikian sejak 2010 semua persepsi dan situasi telah jauh berbeda. Warga Tunagrahita di dusun ini telah mendapatkan tempat yang berbeda dihati warga dusun dan juga warga sekitar dusun ini (bahkan dihati para pembaca yang membaca kisah sukses mereka).

Kini dari kolam lele seluas 1×2 meter dibelakang rumah mereka, mereka dapat menghasilkan peghasilan sendiri yang diperoleh dari hasil penjualan 1000 lele per kolam. Dengan laba antara Rp. 150.000 – Rp. 250.000 per tiga bulan sekali inilah mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari pribadi mereka dan dapat hidup mandiri tanpa harus menunggu donasi berupa makanan tiap bulannya. Kini warga Tunagrahita di dusun ini sudah tidak lagi dipandang sebagai beban keluarga dan lingkungan.

Tidak hanya warga Tunagrahita saja yang mendapat dampak positif, penghasilan dusun secara keseluruhan juga meningkat akibat bergeraknya kegiatan ekonomi dan meningkatnya jumlah produksi lele dari kolam di dusun Tanggung Rejo.

Meski relatif lebih kecil jumlah penyandang Tunagrahitanya dibanding dengan desa Sidoharjo (323 orang), kini dusun Tanggung Rejo tidak mustahil bisa bertransformasi dari “Kampung Idiot” untuk menjadi Kampung Pioner untuk memperjuangkan dan mendorong kemandirian kepada penyandang Tunagrahita didaerah sekitar dan di luar Ponorogo.

Eko Mulyadi, Pejuang Kemandirian Tunagrahita

Adalah Eko Mulyadi (31), putra dusun Tanggung Rejo itu sendiri yang sesungguhnya menjadi dalang dalam semua perubahan ini.

Berangkat dengan prinsip teguh “Keterbatasan fisik bukan penghalang seseorang melakukan aktifitas yang bermanfaat” dan keprihatinan mendalam terhadap warga dan dusunnya yang penuh keterbatasan, Eko memulai program pemberdayaannya di tahun 2010 dengan modal awal Rp. 3.000.000 dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia Kediri.

Bersama teman-teman dekatnya, bapak satu orang putri ini menggunakan modal diatas untuk membangun kolam lele sebesar 5,5 x 24 meter yang bisa menampung 24.000 ekor ikan lele. Kolam ini lah yang kemudian menjadi sarana pelatihan penyandang Tunagrahita untuk belajar memberi pakan, membersihkan kolam, hingga penggantian air kolam sebelum kola mini menghasilkan uang untuk mendanai kolam-kolam seluas 1×2 meter di belakang setiap rumah warga penyandang Tunagrahita. Saat ini, dari kolam ini lah 57 kolam kecil lainnya dibangun.

Menurut pemuda yang baru saja diangkat menjadi Kepala Desa ini, pemberdayaan yang dilakukannya tidaklah mudah, terutama diawal pemberdayaan. Menurutnya tantangan terhadap apa yang diyakininya datang dari berbagai arah termasuk dari penyandang Tunagrahita dan warga dusunnya sendiri. Tantangan terberat dari Tunagrahita adalah kesulitan mereka untuk menangkap pengajaran yang ia berikan. Sedangkan dari warga dusunya adalah cemoohan terhadap idenya. Namun seiring berjalannya waktu, mantan aktifis kampus dan Karang Taruna ini berhasil memberikan pelatihan dan pengajaran kepada Tunagrahita binaannya. Pandangan miring terhadapnya juga perlahan menghilang saat warga melihat apa yang ia kerjakan ternyata membuahkan hasil yang positif bagi para penyandang Tunagrahita dan desa secara keseluruhan. Bahkan saat ini banyak warga lokal yang ikut serta dalam program peberdayaan ini dengan menjadi pengarah kepada setiap satu Tunagrahita, sehingga proses pembudidayaan menjadi lebih efektif.

Peraih Danamon Social Entrepreneur Award 2013

Prestasinya yang luar biasa ini telah membawa beliau menjadi salah satu peraih Danamon Social Entrepreneur Award 2013, sebuah ajang penghargaan tahunan yang didedikasikan terhadap individu-individu yang membangun wirausaha berkelanjutan untuk mengatasi masalah sosial disekitarnya.

Menurut hemat saya, beliau sangat menginspirasi dan apa yang beliau lakukan memang sangat layak mendapat apresiasi sebesar Danamon Social Entrepreneur Award.

Beliau cocok disebut sebagai Social Entrepreneur karena dari sisi pengusaha (entrepreneur) beliau berhasil mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang bisnis dengan memaksimalkan potensi yang ada dan dapat memaksimalkan keuntungan dari usaha ini untuk kepentingan sosial (sisi sosial)

Hal yang terbaiknya adalah, beliau secara terus menerus berkomitmen menggunakan laba dari usaha awalnya untuk terus membesarkan program pemberdayaannya yang pada akhirnya dapat memberikan dampak sosial yang lebih besar.

Hal ini dapat dilihat dari rencanya untuk membangun dan menciptakan bisnis baru sebagai bentuk antisipasi jika budidaya lele dusun Tanggung Rejo mati serta harga pakan lele semakin naik. Beberapa rencana kedepannya adalah pembudidayaan ikan nila, pembangunan pasar permanen di desanya dan pendirian koperasi simpan pinjam.

Mari Kita Dukung Pak Eko Menjadi Peraih Favorit Danamon Social Entrepreneur Award 2013 di www.danamonawards.org sampai dengan 17 Oktober 2013.

Salam

Felix Kusmanto

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s