Pertamax Jangan Cuman Sekedar Bensin Berkualitas

Dewasa ini, di era globalisasi, masyarakat memiliki berbagai pilihan Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi kendarannya akibat masuknya berbagai produk BBM asing ke Indonesia.  Beberapa pemain di tanah air adalah Pertamina, Shell, Total dan Petronas.

Meminjam perumpamaan Chan Kim dan Renee Mauborgne, perusahan-perusahaan ini ibarat bertarung di lautan merah darah akibat bertarung di pasar, dengan produk dan taktik yang cenderung sama. Perang harga dan adu klaim kelebihan produk mereka adalah taktik klise. Tidak ada hal yang mendasar untuk membedakan perusahan-perusahan ini!

Diantara pemain-pemain ini Pertamina saat ini masih bisa dikatakan memimpin karena diuntungkan dengan meluncur terlebih dahulu dan mempunyai produk Premium (Kelas RON 88) yang disubsidi pemerintah.

Tapi apa jadinya saat subsidi BBM jenis premium terus dipotong oleh pemerintah pusat? Pertamina dengan Pertamaxnya akan semakin didorong untuk bertarung dengan produk kelas RON 92 lawan-lawannya (Shell Super, Total dan Petronas Primax 92).

Walau perlahan trendnya akan menuju ke pertarungan di kelas Pertamax (ini tantangan pertama Pertamina, tantangan berikutnya nanti adalah saat bensin habis dan BBM diganti dengan energi listrik), saat ini masyarakat sebagai konsumen atau “yang punya uang” masih:

1. “Blur” tentang kehebatan produk Pertamax dibanding produk asing lainnya.

2. Bingung kenapa harus beralih ke Pertamax.

3. Cenderung fokus kepada harga murah.

Singkat dan sederhananya, konsumen untuk membeli Pertamax masih bertanya apa pembenarannya untuk membayar harga yang lebih tinggi. Kalau iya ada untungnya, apa untungnya? Kalau iya ada hebatnya dibanding produk asing , apa hebatnya?

Tentu dalam mengubah perilaku (behaviour) konsumen tidaklah gampang. Tapi tidak mustahil! Contohnya ingat bensin Shell ingat kelajuan mobil Ferrari sehingga rasanya membeli bensin Shell rasanya layak, ingat Petronas ingat negara tetangga sehingga malas beli. Ya kan? Ingat Pertamax…Mahal, mending Shell.

Agar Pertamax bisa menjadi Bensin kelas RON 92 yang dipilih (prefered), Pertamina harus:

Pertama, secara gencar dan konsisten mempromosikan dan menjelaskan apa keunggulan Pertamax dibandingkan produk asing lainya.

Dalam mempromosikan dan menjelaskan dibutuhkan data tambahan guna meningkatkan rasa percaya. Dalam hal ini contohnya dalam iklan, iklankan dengan tabel perbandingan dengan nama kompetitor disamarkan atau dihilangkan. Kemudian perbandingan ini harus diakui oleh lembaga riset ternama sehingga masyarakat semakin percaya.

Hemat saya, memang sudah ada iklan dan penjelasan dari pihak Pertamina seperti dikutip dalam artikel ini, video ini dan video ini, tapi mana efeknya?

Tanggal 5/4/2012 saat artikel diatas di lansir, pihak Pertamina menyatakan Pertamax lebih berkualitas sehingga percaya harga yang lebih tinggi bisa diterima masyarakat. Namun 7 bulan berlalu tepatnya tanggal 4/11/2012, Pertamina Pertamax perang harga dengan Shell Super seperti dilansir di artikel ini. Apakah efeknya bagi psikologis konsumer?

Iklan belum bisa menempelkan persepsi bahwa Pertamax sebagai BBM yang mempunyai berbagai keunggulan. Iklan hanya  berhasil menunjukan bahwa Pertamax adalah produk ciptaan Indonesia.

Membuat Pertamax Bukan Sekedar Bensin Berkualitas

Hal berikut adalah ide saya yang saya rasa bisa membuat pertamax menjadi BBM yang tidak hanya berkualitas namun juga bermanfaat bagi Indonesia.

Kedua, untuk membedakan Pertamax dan menjadikan Indonesia lebih baik dengan pertamax. Pertamina Perlu Meningkatkan nilai jual (bukan harga Jual) Pertamax itu sendiri .

Nilai lebih itu bisa diciptakan dengan inisiatif mengembalikan sebagian keuntungan dari penjualan Pertamax ke masyarakat.

Berbeda dengan CSR Pertamina pusat yang sudah ada yang sifatnya terarah sesuai kebijakan dan agenda kantor pusat. Inisiatif ini dijalankan di lingkungan SPBU yang menjual Pertamax.

Jadi setiap keuntungan dari tiap SBPU yang menjual pertamax akan disisihkan untuk berbagai pembangunan yang memberdayakan masyarakat  sekitar SPBU (tanpa mengurangi keuntungan pemilik SPBU, melaikan dari pusat).

Jenis pembangunan dan pemberdayaan bisa dalam bentuk penanaman pohon, pembangunan klinik murah, pembangunan sekolah uang sekolah murah, sistem peminjaman uang mikro dan pelatihan pemuda setempat.

Warga sekitar tetap dikenakan biaya yang sangat murah untuk fasilitas diatas demi menjaga keberlanjutan fasilitas-fasilitas diatas dan agar fasilitas diatas dapat terus tumbuh menjadi lebih besar dan punya efek yang lebih besar.

Dengan adanya inisiatif serupa diatas maka secara tidak langsung Pertamax dapat membangun daerah sekitar SPBU dan menjadi lebih bermanfaat bagi Indonesia.

Tentu dana yang di kelola setiap SPBU harus di buka secara transparan agar tepat sasaran.

Dengan inisiatif diatas, konsumen pertamax pun merasa pertamax mempunyai nilai lebih dari produk-produk asing lainnya. Sehingga membeli Pertamax tidak lagi berkesan mahal karena ada manfaatnya buat Indonesia.

Pertamax punya Indonesia ya harus kembali ke Indonesia.

Semoga ide singkat ini bermanfaat

Salam

Felix Kusmanto

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s