Melirik Saat-Saat Indonesia Tanpa “Emas Hitam”

Ilustrasi Habis Bensin (Antara)

Eksploitasi minyak bumi saat ini untuk memenuhi kebutuhan bensin dunia, termasuk Indonesia, tidak sebanding dengan penemuan atau kemunculan sumber-sumber minyak bumi baru

Menjadi negara pengusung predikat The Best-Performing Economies di G-20 Ekonomi Utama adalah pujian dan tantangan tersendiri bagi Indonesia.

Dengan predikat ini, secara tidak langsung Indonesia dengan segenap 238 juta penduduknya ditantang untuk terus menerus memompa energi agar pertumbuhan ekonomi dalam negeri dapat meningkat, atau paling tidak agar angka 6% seperti saat ini dapat terjaga.

Namun sayangnya, walau pernah juga menyelamatkan ekonomi Indonesia di era krisis ekonomi 2009, konsumerisme dalam negeri ini telah menjadi bahan bakar utama yang menciptakan momok tersendiri dalam menggerakan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Salah satu bentuk fenomena konsumerisme ini adalah menjamurnya jumlah kendaraan bermotor di jalan-jalan Indonesia secara fantastis. Tahun lalu, sekitar 8 juta motor bebek dan 1,2 juta mobil baru menambah jumlah kendaraan yang sudah ada, menjadikan Indonesia sebagai pasar mobil terbesar kedua di asia tenggara.

Di satu sisi, peningkatan diatas menunjukan secara jelas peningkatan mobilitas manusia yang membawa pergerakan ekonomi di Indonesia. Namun di sisi lain, peningkatan ini juga menjadi momok tersendiri karena jumlah kendaraan baru yang besar ini tentu saja membutuhkan bahan bakar yang tidak kalah besar, alhasil kebutuhan “emas hitam” atau bensin secara otomatis meningkat tajam.

Ancaman Kelangkaan Bensin Jangka Panjang Di Indonesia

Melirik beberapa tahun kedepan dengan tingat konsumsi bensin seperti saat ini, sudah pasti isu bensin akan menjadi momok yang menakutkan bagi Indonesia jika tidak dipersiapkan solusinya.

Situasi Indonesia yang sejak tiga tahun lalu resmi keluar dari organisasi pengekspor Minyak Bumi OPECtelah memberikan isyarat bahwa kemampuan Indonesia untuk mempunyai surplus stock minyak bumi mentah untuk ekspor saat ini sudah tidak ada.

Kenyataan lain bahwa Indonesia sudah di kategorikan sebagai negara peng-impor minyak bumi jadi adalah isyarat lain bahwa Indonesia semakin menjadi negara yang tergantung oleh pasokan minyak jadi asing. Hal ini tentu membuat Indonesia sangat rentan dengan kenaikan harga per barrel dunia.  Tidak heran jika harga bensin yang mayoritas di konsumsi untuk kendaraan bermotor dalam negeri dapat naik dan turun secara tiba-tiba.

Gawatnya lagi, ancaman bagi Indonesia bukan hanya pada harga namun juga pada ketersedian bensin di tanah air. Bukan berita baru dan sudah di umumkan oleh peneliti dunia, cadangan minyak bumi di dunia bukanlah tanpa akhir. Minyak bumi dunia dan juga yang ada di Indonesia akan habis dalam kurun waktu tertentu.

Menurut peneliti energi yang berbasis di Inggris, produksi minyak bumi akan mencapai puncaknya dalam kurun waktu 30 tahun kedepan. Kemungkinan besar setelah mencapai produksi puncak, perlahan produksi minyak akan menurun seiring dengan berkurangnnya cadangan. Alhasil ketersedian bensin di dunia menurun, begitu pula dengan ketersediaan di Indonesia. Jika ada pun, bensin akan menjadi komoditi yang sangat mahal. Hanya orang super kaya yang dapat menikmatinya.

Indonesia Tanpa “Emas Hitam”

Kehidupan masyarakat Indonesia tentu akan mengalami perubahan yang drastis tanpa bensin di tanah air.

Jalan-jalan ibu kota akan lengang tanpa kemacetan. Lampu merah akan terus berganti warna tanpa ada mobil yang harus menunggu isyarat jalan, jalan tol dalam kota akan menjadi saksi biksu sejarah peradaban manusia era sekarang.

Harga bahan-bahan pokok akan merangkak naik akibat biaya transportasi yang tinggi. Hal ini tidak lagi baru, karena saat ini kita sudah menyaksikan bahwa harga bensin adalah faktor penting yang dapat mempengaruhi harga bahan-bahan pokok di tanah air.

Daerah terpencil akan semakin terpencil, kapal feri penghubung antar pulau akan mati bergerak. Mayoritas penumpang tidak akan lagi mampu membeli tiket pesawat yang menggunakan bensin jenis avtur yang jelas-jelas merupakan jenis bensin termahal. Kapal fery yang merupakan moda transportasi berbahan bakar solar atau diesel akan bersandar di pelabuhan-pelabuhan sepanjang garis pantai Indonesia menunggu.

Jakarta tidak akan lagi menjadi daya tarik utama ekonomi dan politik. Bahan-bahan mentah tidak lagi datang ke pulau Jawa karena setiap daerah akan fokus untuk berbenah dan beradaptasi dengan situasi ini.

Indonesia yang merupakan negara kepulauan akan berhenti beraktifitas dan ekonomi perlahan akan menurun secara drastis! Akankah disintergrasi akan terjadi? Tidak ada yang tahu.

Yang pasti kehabisan bensin akan menjadi ancaman tersendiri selain pemanasan global. Dan situasi ini kemungkinan besar dapat menjadi titik awal peradaban yang baru di Indonesia dan di dunia.

Alam Menjadi Penyalamat Indonesia

Manusia Indonesia ditantang berinovasi dalam memecahkan permasalahan yang akan datang dalam kurun waktu kurang dari satu generasi kedepan.

 Tersedianya sinar matahari sepanjang tahun dan tersedianya air di Indonesia di sekeliling Indonesia menjadi sesuatu yang normal dan sering terlupakan manfaat dan potensinya, saat negara-negara lain seperti Jerman terus berinovasi terhadap energi sinar matahari.

Era energi baru akan segera tiba! Dan Indonesia sangat beruntung dengan alam yang ada. Indonesia mempunyai potensi untuk terus bergerak tanpa energi fosil. Bisnis green energi akan menjadi bisnis yang besar.

Malaysia dengan departement sumber daya manusianya sudah memulai mengadakan training pentingnya dan bagaimana memulai bisnis energi terbaru yang tentu akan berguna di masa akan datang.

Akhir kata, mobil-mobil tidak akan lagi mengisi bensin seperti saat ini. Mobil-mobil akan mengnsi energi layaknya kita mengisi batrei handphone kita. Pesawat dan fery secara otomatis akan mengikuti jejek mobil. Ekonomi dan sektor bisnis baru akan bergerak dalam kitaran energi baru, energi hijau.

Salam

Felix Kusmanto

Tulisan ini juga di publikasikan di blog Kompasiana saya http://www.kompasiana.com/felixkusmanto

2 thoughts on “Melirik Saat-Saat Indonesia Tanpa “Emas Hitam”

  1. Memang tragis jika kita bisa sejenak memikirkan dengan benar ( dalam arti memikirkan sesadar2nya) bagaimana kondisi Indonesia, kira2 sepuluh tahun yad.

    Apakah kekayaan alamnya masih bisa di andalkan atau jauh tertinggal dengan penemuan2 di negara lain, yang mana kita akan jauh ketinggalan, dan lagi2 makin tergantung kepada pihak luar lagi.

    Tidak heran jika dikatakan, Indonesia sekarang disebut2 sebagai peradaban pertama terbentuknya dunia, malah ada dugaan, atlantis atau suatu masa, dimana Indonesia pernah tenggelam dan hal ini menyebabkan punahnya suatu generasi baik alam, flora dan faunanya. Tidak heran jika banyak kandungan emas, emas hitam/ batubara hingga minyak yang diperkirakan bersumber dari lapisan fosil yang berada di bawah tanah.

    Menyambung tulisan Bung Felix, yang perlu di antisipasi dan dipikirkan dengan sangat, tidak hanya hasil kekayaan bumi Indonesia, hasil alam dan karya bangsa Indonesia sedapat mungkin dikaryakan atau di buat hasil yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia, tidak bergantung kepada negara-negara lain, benar2 dapat menjadi negara digdaya, dimana rakyat dapat menikmati kemakmuran karena kekayaan bumi dan alamnya.

    Masa kita kalah dengan Brunei, Arab Saudi, Kuwait, Malaysia yang juga mempunyai kekayaan bumi dan alamnya dibawah Indonesia, tapi rakyatnya bisa memetik hasilnya dan diberikan kemakmuran untuk turut menikmatinya antara jaminan sosial, bonus tahunan dll sebagai masyarakat di negara tsb. Janganlah menyatakan bahwa negara kita penduduknya lebih banyak daripada negara-negara tsb. Karena hasil kekayaan bumi dan alamnya tentu lebih berlimpah daripada mereka.

    Sudah saatnya masyarakat kita sadar akan pentingnya kekayaan bumi dan alam negaranya, sadar bagaimana bisa mengawasi penggalian, penggunaannya yang sebaiknya karena kerusakan alam juga akan berakibat buruk bagi kehidupan masyarakat jangka panjang.

    Mungkin Bung Felix dapat juga menggali dan menuliskan mengenai bagaimana negara-negara lain penghasil minyak tersebut dapat memakmurkan para penduduknya sebagai perbandingan dengan perkembangan di tanah air.

    Terima kasih sudah mengingatkan diantara kita dan generasi muda khususnya.

  2. Ping balik: Pertamax Jangan Cuman Sekedar Bensin Berkualitas | Parsimonia

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s