Harapan di Tahun Baru Imlek 2011: kesamarataan yang Sejati

“Kita patut menutup mata kita sejenak untuk kemudian melihat kembali orang lain tanpa label pada dirinya dan menjadikan dirinya saudara-saudari kita”

Sebelas tahun sudah sejak  tahun baru Cina atau imlek dijadikan salah satu libur nasional di Indonesia, dan sejak itulah juga warga negara Indonesia keturunan Cina mulai dapat merayakan imlek secara terbuka dan menunjukan kembali jatidirinya di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk sebagai suatu suku bangsa.

Perlahan namun pasti,  Imlek menjadi perayaan yang semakin semarak dan hangat. Se-semarak tarian tradisional barongsai yang tidak lepas dari unsur petasan dan gerakan agresif singa yang melompat-lompat, dan sehangat tanggapan ataupun keikutsertaan berbagai kalangan tanpa memandang asal usul dan agamanya dalam perayaan ini. Imlek sendiri juga perlahan menjadi sebuah terobosan dan cerminan sebuah kebersamaan dan kerukunan di Indonesia yang tidak hanya mewakili suku bangsa Cina namun juga berbagai suku bangsa lainnya di Indonesia, baik yang mayoritas dan minoritas.

Tentu saja buah kebersamaan dan kerukunan diatas tidak dapat di capai tanpa upaya dari banyak pihak. Paling tidak almarhum mantan presiden RI KH Abdurrachman Wahid atau biasa disapa Gus Dur telah berhasil menjadi “investor” benih kebersamaan di tanah Indonesia, dan tanpa atau dengan sadar KITA-lah juga yang berperan sebagai petani dan penjaga benih itu sampai ia tumbuh hingga sekarang, tahun kelinci.

“Perlakukan orang lain layaknya kita ingin diperlakukan orang lain”

Sosok kelinci pada tahun baru Cina 2562 (atau tahun 2011 dalam penanggalan masehi) melambangkan keanggunan, sopan-santun, nasihat baik, kebaikan dan kepekaan terhadap segala bentuk keindahan yang ada telah menganugrahi kita  sebuah kesempatan dan tantangan lagi untuk menghargai dan tetap menjaga kebersamaan yang ada.  Apakah kita mampu untuk terus menjaga apa yang sudah kita capai sekarang?

Kebersamaan yang telah ada akan selalu ada selama rasa saling menghargai antara warga negara Indonesia ada, dan rasa saling menghargai itu akan otomatis selalu ada saat rasa saling menjatuhkan atau merendahkan TIDAK ADA. Semua kembali kepada rasa kesamarataan yang sejati antar warga negara Indonesia.

Kesamarataan yang sejati yang di maksud disini adalah kesamaratan yang tidak hanya muncul di permukan dan terkesan palsu atau artificial namun adalah kesamarataan yang telah meresap dalam pribadi per individi sehingga individu tersebut dapat mempraktekan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari tanpa beban.

Namun demikian adalah hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa rasa ini akan sangat sulit untuk muncul saat kita kembali  mengingat-ingat kembali peristiwa hitam yang telah terjadi sebelum benih kebersamaan di tanam dan saat kita selalu berpikiran tertutup terhadap fakta di sekitar kita.

Hmmm..saatnya saya intropeksi dan ingat-ingat lagi nilai-nilai yang diajarkan agama saya.hmm

“Saatnya kita melihat apa yang kita bisa lakukan bersama, bukan lagi apa yang berbeda sehingga kita tidak dapat bekerja sama”

Harapan ini saya tulis secara pribadi untuk berbagai golongan di Indonesia, baik yang mayoritas maupun minoritas. Selamat tahun baru imlek 2011 bagi kita semua. Gōngxǐ fācái

Salam
Felix XuFeng Pao Kusmanto

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s