“4,126 KM” Two Weeks Around Indo-China (THAILAND Part)

Day 1- Koh Phi-phi, Provinsi Dunia

Perjalanan yang melelahkan telah menghabiskan tiga batang cokelat, waktu dan energi. Namun semua itu terbayar lunas sesampainya kami di sebuah pulau kecil yang dikenal sebagai Koh Phi Phi. Dipulau ini kami melihat miniatur surga dalam hegemoni asing. Tak banyak kami temukan penduduk lokal. Tepat rasanya jika pulau ini disebut sebagai provinsi dunia. Beragam orang dari berbagai macam Negara bercampur membentuk sebuah komunitas. Mungkin intervensi asinglah yang menambah nilai ekonomi pulau ini. Tak lama sesudah kami turun dari kapal fery kami yang menghubungkan kota krabi dengan pulau ini, kami disambut oleh sekelompok orang yang menamakan diri mereka scuba diver. Hanya dengan berjalan kaki pulau ini dapat kami jelajahi. Dalam perjalanan kami mencari tempat bermalam banyak kami jumpai penjaja hotel dengan beragam tawaran yang mereka tawarkan, namum kami tidak bergeming dan akhirnya menemukan penginapan dengan harga yang terjangkau tanpa tedeng aling-aling para penjaja tersebut.

Hal menarik pertama yang kami temui dalam hotel ini adalah pintu kamar mandi yang senantiasa terkunci saat kita didalamnya, sehingga dibutuhkan extra tenaga untuk mendobraknya, tak cukup sampai disitu hal menarik lainnya yang kami temukan  dalam kamar mandi hotel ini adalah kandungan garamnya yang sangat tinggi higga rasanya ikan laut pun dapat hidup jika dilepas di dalamnya.

Saat matahari terbenam, dan sore berganti malam kami bergegas untuk mencari tahu lebih dalam tentang kehidupan penduduk lokal asli. Terkejut memang saat melihat dengan kepala mata sendiri tentang kehidupan mereka yang terasingkan, hanya kami temukan satu keunikan khas Thailand dari sebuah restoran kecil yang menjual makanan yang dinamakan Padthai. Tanpa ragu kamipun menyantapnya. Padthai merupakan makanan khas Thailand yang menyerupai kwetiau dengan dibubuhi modifikasi bumbu yang menambah keunikan rasanya. Disamping makanan yang kami santap di restoran itu, restoran inipun menawarkan daya tarik tersendiri dengan membiarkan para pelanggannya untuk meninggalkan pesan dan kesannya saat berada di restoran ini. Kami melihat begitu banyaknya kertas yang berisikan komentar berbagai orang dari berbagai penjuru dunia. Semua itu ditempel di dinding sekeliling restoran itu.

Waktu menunjukan pukul 11 malam. Saatnya kami berbegas pulang mengingat esok kami harus melanjutkan perjalanan kami, dan sampai saat kami menuliskan tulisan ini bar-bar disekitar penginapan kami sedang asyik mendentumkan iramanya, tanpa memperdulikannya kamipun terlelap.

Day 2 – Keliling rangkaian pulau Koh Phi-Phi

Kopi selalu menjadi sahabat setia para pembincang politik. Saat itu suhu politik yang memanas di Thailand menggunggah suara hati rakyatnya. Mon sang pemilik hotel tempat kami bermalam, hanya salah seorang dari berpuluh juta orang Thailand yang mengharapkan kedamaian dan ketentraman hidup. Politik baginya hanyalah taman bermain wakil rakyat, dimana koneksi adalah hukum tertinggi di dalamnya. Kaos merah para pendukung mantan perdana menteri Thaksin Sinawatra saat itu sedang memadati Bangkok untuk menyuarakan aspirasinya, begitu pula para pendukung Abhisit perdana menteri Thailand saat ini yang menyatakan dukungannya dengan menggunakan kaos bewarna kuning. Entah apa yang mereka suarakan merupakan luapan isi hati atau hanya permainan segelintir pendukung mantan perdana menteri yang ingin mengacaukan jalannya pemerintahan, kita tidak tahu. Bagi Mon melihat saja sudah cukup tanpa harus ikut serta dalam luapan aspirasi, ketentraman hidup hanya itu yang diinginkan rakyat kecil.

Tanpa terasa matahari pagi telah menghangati perkarangan hotel kami. Pukul 10 pagi kita harus pergi ke dermaga untuk menaiki kapal yang akan membawa kami mengelilingi beberapa pulau di sekitar Koh Phi-Phi. Namun perut ini perlu diisi sebelum kita melalui hari. Untuk itu sengaja kami singgah di kedai kecil, penjaja makanan khas Thailand “THAI Noodle”. “Swadikap” itulah kata-kata pertama penuh keramahan dari seorang perempuan cantik penjaja mie khas Thailand. Kami pun membalas ucapannya, kemudian sang penjaja berbicara dengan bahasa Thailand kepada kami, Klasik tentu dia berfikir kami adalah penduduk Thailand yang sedang berlibur disana. Ekspresi kebingungan langsung terpancar jelas dari muka kami. Tentu kali ini bukan kali pertama kami dianggap penduduk Thailand. Seketika perempuan cantik ini meminta maaf dan mengajak kami berbincang dalam bahasa inggris. Setelah perut terasa hangat oleh makanan dan sebelum kami bergegas pergi kami meminta sang penjaja untuk menebak dari mana kami berasal. Singapore dan Malaysia hanya dua Negara itulah sangkaannya terhadap kami, tanpa menyadari tepat di selatan kedua Negara tersebut terdapat Negara kepulauan terbesar didunia yaitu nusantara Indonesia. Tanpa ingin melanjutkan perdebatan, kami akhiri perbincangan dengan mengucapkan bahwa kami berasal dari Indonesia. Dia pun tertawa malu dan meminta maaf kepada kami.

Tepat pada pukul 10 pagi kami bergegas ke dermaga, sesampainya disana antrian panjang langsung menyambut kedatangan kami. Ternyata turis-turis asing lainnya telah datang lebih awal untuk memulai tur mengelilingi kepulauan di sekitar Koh Phi-phi. Tentu ini merupakan kesempatan para turis manca Negara untuk membakar kulit mereka. Kegiatan pertama yang telah diatur oleh pihak penyelenggara adalah snorkelling di sebuah tepi laut jernih bewarna biru. Indah itulah kata-kata pertama yang terbesit di benak kami saat kami berada di dalamnya. Sekumpulan ikan yang menbetuk formasi seakan menjadi pertunjukan atraktif didasar laut. Sedangkan koral yang cantik menjadi penyempurna keindahan dasar laut. Melihat tanpa harus merusak keindahan alam rasanya itulah yang manusia harus lakukan demi melestarikan karya agung Tuhan, sang pencipta. Setelah puas berpindah tiga tempat untuk snorkelling kami pun menepi disebuah pulau kecil berpasir putih dan berpohon rindang, yang dinamakan bamboo island. Disana kami disuguhkan makan siang untuk menggembalikan energy yang telah terkuras. Sambil menyantap makanankami mulai bertukar pengalaman kepada teman wanita seperjalanan kami yang berasal dari Florida, Amerika dan Belanda. Dan juga seorang pria Brazil  yang tinggal di Australia. Tak disangka-sangka kedua wanita itu pernah lama tinggal di Indonesia sebagai pengajar lembaga institusi bahasa inggris di bilangan bumi serpong damai. Setelah cukup lama menghabiskan waktu di pulau itu terdengar dari kejauhan suara klakson pertanda kapal segera menarik jangkar dan melanjutkan perjalanan.

Singkat cerita perjalanan antar pulau kami diakhiri disebuah pulau dimana film Hollywood ternama pernah mengambil adegan saat seorang backpacker asal amerika menemukan kehidupan para turis manca Negara yang menetap di sebuah pulau rahasia tak berpenghuni.

Dalam perjalanan pulang kami menyaksikan mahatari yang terbenam bersamaan dengan laju kapal kami yang terus membelah laut menuju kembali ke Koh Phi-Phi seakan menjadi pemanis untuk menutup perjalanan panjang kami hari ini secara resmi.

Day 3 – Selamat tinggal Koh Phi-Phi

Tujuan selanjutnya adalah ibu kota Thailand yang memakan waktu 17 jam dari Koh Phi-Phi dengan jarak tempuh mencapai 700 km dengan bus malam. Bangkok mempunyai sejarah yang cukup panjang, dahulu kala kota ini hanyalah sebuah kota kecil kemudian tumbuh menjadi ibu kota kedua dari kerajaan besar Thailand yaitu Siam. Setelah melalui proses yang begitu panjang kota ini sekarang telah tumbuh menjadi salah satu kota metropolis dunia yang menawarkan berbagai dinamika kehidupan. Dengan mengetahui perjalanan panjang dan memakan waktu yang cukup lama kami memutuskan untuk bangun lebih siang guna mempersiapkan energy agar kami memiliki cukup tenaga dalam menempuh perjalanan ini.

Segera setelah kami siap meninggalkan hotel dan bergegas, Mon menyempatkan waktu untuk melepas kepergian kami. Beberapa pesan disampaikannya kepada kami. Salah satunya adalah cara mengucapkan selamat tinggal menurut budaya Thailand.

Fery yang akan mengantar kami pergi ke kota krabi berangkat pukul 2 siang, untuk itu kami berada di dermaga lebih awal. Pemandangan sekitar diluar fery tidaklah jauh berbeda  pemandangan perjalanan kami ke Koh Phi-Phi, yang berbeda hanyalah perjalanan ini terasa lebih cepat, ditambah dengan adanya seorang turis asal argentina yang tidur beralaskan pelampung tepat di lantai depan kami.

Setelah fery yang menghubungkan koh phi-phi dan krabi merapat kami langsung dijemput oleh agensi perjalanan dengan kendaraan yang cukup unik, semacam truk namun bukan truk, bisa dikatakan pick up tapi bukan juga pick up. Jadi dengan tujuan menyederhanakannya kami meyebutnya truk pick up. Dengan menggunakan truk pick up yang penuh sesak oleh wisatawan mancanegara inilah kami di hantarkan ke bus yang sesungguhnya akan bertolak ke Bangkok.

Sejauh mata kami memandang hanya ada orang asia di dalam bus kami, yaitu kami dan dua orang yang berasal dari India. Singkat cerita perjalanan panjang yang melelahkan itu telah kami lalui. Namun hal yang menarik yang dapat kami maknai adalah bahwa setiap bangsa di dunia ini memiliki perilaku yang berbeda-beda. Hal ini dapat kami lihat dari tingkah laku para turis barat dan timur. Turis dari barat dengan santai meletakkan kakinya pada senderan kepala penumpang lain tanpa risau menggangu kenyamanan orang lain. Sedangkan turis asal india meminta izin kepada orang yang berada di sekitarnya sebelum mereka menyatap makanannya, bahkan tanpa ragu mereka mau berbagi makanan dan minuman yang mereka miliki kepada orang yang berada didekatnya. Rasanya dari perbedaan inilah salah satu alasan mengapa Negara-negara dibagi menjadi lima benua.

Day 4 – Selamat datang di Bangkok

Sedikit tentang sejarah Bangkok

Terkejut memang saat membaca“Krungthep-phramaha-nakhonbawon-rathnakosin-mahinthara-yutthayaa-mahadilok-phiphobnobpharaat-raatchathaani-buriir-omudomsantisuk“ . Perlu beberapa waktu untuk paham apa artinya kalimat itu, hingga seseorang memberi tahu bahwa itu adalah nama resmi kota Bangkok. Ya memang, kota Bangkok mempunyai nama resmi yang sangat panjang. Bangkok sendiri adalah ibukota kedua Thailand (atau Siam pada dulu kala). Bangkok menjadi pilihan ibu kota kedua kerajaan Siam setelah Ayutthaya terus menerus di serang oleh tentara Burma. Mujur memang, dengan posisi Bangkok yang jauh dari wilayah Burma, kota ini menjadi aman.

Namun walaupun aman dari serangan Burma hingga saat ini, Bangkok ternyata mempunyai ancaman lain. Karena Bangkok berdiri di tanah yang tidak stabil. Banyak dari daerahnya berada di bawah permukaan laut, alhasil kota Bangkok menjadi rawan akan banjir.

Cerita kami di Bangkok

Matahari menyinari sudut jalan-jalan di kota Bangkok, membuat suasana pagi ini menjadi cukup tenang. Belum ada tanda-tanda kemacetan seperti yang sering digambarkan orang-orang terhadap kota ini. Tak selang beberapa lama saat kami mendapatkan tempat untuk bermalam mulai tampaklah salah satu ciri khas kota ini, Lady boy atau yang biasa disebut “bencong” di Indonesia.

Lady boy dan pekerja seks komersial sudah lumrah dikota ini, bahkan kehadiran mereka bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata Thailand. Kawasan tempat kami menginap adalah salah satu episentrum dari segala kegiatan tersebut. Pemandangan itu semua dapat kami saksikan dengan jelas saat kami sedang bersarapan pagi.Tepat didepan kami Nampak dua orang lady boy yang terlibat dalam pertikaian yang tidak jelas apa yang mereka perebutkan. Mungkin lahan tempat mangkalnya mereka atau konflik memperebutkan pelanggan, kami tidak tahu. Pemandangan ini segera berakhir saat polisi datang untuk melerai mereka. Dalam perjalanan kembali ke hotel, kami menemukan kejadian yang tidak kalah menarik, seorang PSK terlihat sedang berkelahi dengan pelanggannya, sekali lagi apa yang dipeributkan kami tidak tahu dan itu pun bukan urusan kami.

Kembali ke masa lampau di Ayutthaya

(Sejarah singkat kota Ayutthaya) Ayutthaya yang dahulunya di huni oleh 150,000 orang pernah menjadi pusat kerajaan Siam. Begitu banyak pagoda dan taman-taman yang dibangun pada masa kejayaannya. Namun akibat serangan bertubi-tubi dari kerajaan Burma, akhirnya kota ini hancur, hanya menyisakan puing-puing dan patung-patung Budha yang sudah termakan zaman.

Rencana yang kami susun di kota Bangkok tidaklah seperti orang kebanyakan. Kami memilih untuk mengunjungi sebuah kota tua di utara Bangkok. Perjalanan ke kota tua itu memakan waktu 2 jam perjalanan menggunakan kereta api. Disana kami ingin menjadi saksi sejarah kejayaan ibu kota pertama kerajaan pertama Thailand, Siam. Kota tua yang kami kunjungi itu adalah Ayutthaya. Dua jam menuju kota Ayutthaya terasa lambat, hal ini dikarenakan kereta api kelas 3 yang kami tumpangi ini harus berhenti di 16 stasiun untuk mengangkut penumpang dari berbagai pelosok kota kecil disepanjang jalur kereta ini, maklum kereta rakyat.

Suasana di dalam kereta kelas 3 ini masih lebih layak ketimbang kereta ekonomi Jakarta jurusan bogor kota. Walaupun interior ini terbuat dari kayu namun tidak ada sampah berserakan ataupun orang yang merokok sembarangan. Suasana di stasiun tiap-tiap kota pun rapih dan bersih, tak kami jumpai pedagang kaki lima menjamuri persekitaran stasiun. Tiap-tiap stasiun dilengkapi CCTV guna mencegah tindak kriminal. Dari segi kelayakan dan kesiapan transportasi massal rasanya Thailand  berada di satu tinggkat diatas Indonesia, Sebuah PR untuk gubernur Jakarta dan menteri perhubungan pada khususnnya untuk dapat menyediakan transportasi massal yang layak dan lagi terintergrasi demi keamanan, kelancaran, kenyamanan dan kepuasan para penggunanya.

Tak terasa dua jam telah terlewatkan, hingga seorang kakek tua memanggil kami dan berteriak “Ayutthaya!”. Sontak kami pun lompat keluar dari kereta dan menghampiri dua polisi turis. Salah seorang darinya adalah warga Negara asing, tentu hal ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi para turis mancanegara. Oleh kedua polisi turis tersebut kami dibekali sebuah peta untuk menjelajahi kota Ayutthaya. Tanpa dipungut biaya, peta itu kami dapatkan secara percuma dengan hanya membubuhkan tanda tangan sebagai tanda bukti.

Setelah mempelajari peta kota Ayutthaya dan mengestimasi waktu yang akan kami habiskan di kota ini, segera kami memulai perjalanan ini.

Ayutthaya tidaklah kecil. Berjalan kaki rasanya bukan merupakan pilihan yang bijak untuk menjelajahinya, oleh karena itulah kami memilih untuk menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi kami. Namun dalam usaha kami untuk menemui tempat penyewaan sepeda, rasanya 45 menit telah kamis habiskan untuk berjalan. Nyatanya tempat penyewaan sepeda tersebut hanya berjarak 5 menit dari stasiun dengan sebuah sampan.

Seiring berputarnya roda sepeda yang kami kayuh, kota ini seakan-akan menarik kami masuk dalam atmosphere kejayaan masa lampau kerajaan tertua di Thailand, Siam. Terdapat banyak pagoda peninggalan kerajaan Siam yang masih berdiri tegak hingga saat ini yang berada di gugusan paling depan adalah Wat Ratchaburana. Segera setelah tampak pagoda ini dari kejauhan kami tepikan sepeda didepannya. Dari luar, pagoda ini terlihat seperti tumpukan batu bata yang rapi susunannya namun pada kenyataannya pagoda ini memiliki nilai sejarah yang tinggi, disinilah tempat terjadinya pertempuran penting menurut sejarah masa lampau Siam, kamipun tidak sabar untuk masuk dan mengelilinginya. Namun sayang saat kami menginjakan kaki kami ke pintu gerbang pagoda ini seorang berteriak dari kejauhan. Rupanya orang itu meminta kami untuk membayar tiket masuk. Kami tertawa dan segera mendekati orang tersebut. Dengan percaya diri kami segera merogoh dompet dari kantong celana kami untuk menggambil kartu sakti kami, kartu International student, konon kartu ini dapat digunakan diberbagai tempat bersejarah di dunia untuk mendapatkan potongan harga atau bebas biaya sama sekali. Keadaan berbalik saat orang itu melihat kartu kami, dia tertawa puas seakan tidak hanya kami yang pernah menunjukan kartu itu. Pikir-pikir trik kami berhasil, nyatanya orang itu hanya membalas dengan singkat dan jelas, “Tidak! Bagi siapapun yang masuk ke pagoda ini harus bayar”.  Tidak ada kekecewaan apalagi penyesalan saat kami menerima kenyataan tersebut. Insting orang Indonesia kami segera mengambil alih serta member solusi dengan menghibur hati, solusi itu adalah mencari jalan masuk tanpa diketahui penjaga pagoda. Setelah puas melihat-lihat dan berkeliling, kami pun langsung melanjutkan perjalanan kami.

Secara total ada beberapa pagoda yang kami kunjungi. Pada dasarnya pagoda-pagoda itu memanglah gratis. Terakhir dan merupakan yang paling kami ingin kunjungi adalah Wat  Chaiwatthanaram, sebuah pagoda yang terletak paling ujung barat daya dan memakan waktu 30 menit bersepeda untuk mencapainya. Sekali lagi kami pun tertantang untuk mencoba peruntungan kami, kami mendekati loket itu dan berkata “Swadikap” yang berarti “halo”, kami berlagak layaknya orang lokal dengan maksud dan tujuan untuk mendapatkan potongan harga, malang kami tertangkap basah, sang penjaga loket dengan mudah mengetahui bahwa kami bukan berasal dari Thailand. Kali ini kami membayar tiket masuk. Memang sensasi kami membayar tiket dengan diam-diam memasuki pagoda adalah berbeda, membayar tiket berarti tidak mao menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk menelusuri setiap penjuru pagoda ini. Wat Chaiwatthanaram terletak di tepi sungai dan kondisi pagoda ini relative lebih baik dibandingkan pagoda-pagoda yang kami kunjungi sebelumnya, lebih dari itu pagoda ini dikelilingi oleh begitu banyak patung Budha, namun sayangnya pada saat keruntuhan kota Ayutthaya ketangan tentara dari kerajaan Burma seluruh patung Budha tersebut telah di pancung sebagai bentuk penghinaan dan intimidasi. Menurut sejarah hal itu terjadi akibat sifat iri manusia terhadap sesamanya, kerajaan Siam merupakan kerajaan termasyur pada zaman kejayaannya namun kerajaan Burma tidak tahan melihat rumput jirannya yang hijau, mereka (Burma) menyerang kerajaan Siam dan menduduki kota Ayutthaya. Namun mujur tak kunjung datang seketika, kejayaan mereka tak pernah mampu menandingi kerajaan Siam pada zaman keemasannya. Mungkin kita sebagai bangsa Indonesia dapat mengambil hikmah dari sejarah, bahwa kejayaan tidak selamanya dapat diraih melalui konfrontasi melainkan melalui proses yang panjang dan usaha yang keras. Iri adalah hal yang manusiawi dan dapat menjadi bahan bakar semangat, asalkan tidak menjadi suatu hal yang mutlak untuk meraih kesuksesan tanpa usaha yang berimbang. Renungan ini adalah penutup dari perjalanan kita di Ayutthaya.

NEXT, Cambodia

2 thoughts on ““4,126 KM” Two Weeks Around Indo-China (THAILAND Part)

  1. Ping balik: “4,126 KM” Two Weeks Around Indo-China « Parsimonia

  2. Nice trip! yang menarik kereta api kelas 3 bersih dan stasiun dilengkapi CCTV ngga ada pedagang kaki lima, Indonesia kalah jauh ya kalau soal tranportasi publik. yang menarik kedua adalah restoran padthai-nya kayaknya seru baca-bacain kertas dari orang-orang diseluruh dunia, pasti ada berjuta-juta bahasa deh yang menarik ketiga Ayutthaya! Coba ada fotonya🙂 terus yang diceritain secara detail kok Thailand aja di bagian akhir ada tulisan NEXT, Cambodia tapi cerita Cambodianya ngga ada ya?

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s