Budaya Nasional terhadap Korupsi

Antropolog Amerika, Edward T. Hall, yang mengabdikan dirinya untuk penelitian terhadap tata cara komunikasi nonverbal manusia dan hubungan antar budaya menyatakan dalam bukunya bahwa manusia asia pada umumnya adalah manusia yang menerapkan high-context cultures, sebuah konsep dimana manusia dalam bertingkah laku umumnya menjungjung tinggi hal-hal berbau budaya atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai contoh perbandingan orang asia dengan orang barat, adalah si asia berbicara dengan cara mutar-mutar demi menciptakan sebuah hubungan terlebih dahulu dengan lawan bicara sedangkan si barat langsung to the point.

Secara umumya juga, manusia-manusia asia terkenal dengan cara hidup kebersamaannya dan kekeluargannya. Sama dengan manusia Indonesia, rasa gotong royong, membantu sesama , menghormati yang dituakan dan lain-lain sudah mulai di pupuk sejak usia dini. Hal ini telah menjadi suatu fenomena menarik bagi para peneliti dari luar untuk mempelajari lebh jauh. Salah satunya adalah Geert Hoftede, seorang psikolog berpengaruh Belanda yang mendedikasikan penelitianya terhadapbudaya-budaya nasional dan budaya berorganisasi.

Budaya Organisasi Indonesia

Penelitian Geert Hofstede, pada tahun 2001, yang mensertakan Indonesia dan 49 negara lainnya (termasuk didalamnya 2 negara ASEAN yaitu Malaysia dan Singapore) menemukan bahwa manusia Indonesia dalam berorganisasi juga tetap menghiraukan azas kebersamaan atau collectivism. Peringkat azas kebersamaan manusia Indonesia dalam berorganisasi termasuk tinggi. Indonesia menempati urutan 6-7 yang mana mengungguli Singapore (di posisi 13-14) dan Malaysia (di posisi 17).

Dari aspek power distance atau jarak kekuasaan, Indonesia (berada di urutan 44) dikatagorikan sebagai negara dengan jarak kekuasaan tinggi. Dengan kategori ini,manusia Indonesia dalam berorganisasi melihat bahwa posisi jabatan formal dalam organisasi adalah hal yang mutlak. Singkat kata “bos adalah bos”. Untuk perbandingan Negara ASEAN Singapore berada di urutan 40 dan Malaysia berada di posisi 50. Malaysia dalam penelitian ini adalah Negara dengan Power distance tertinggi.

Dari aspek Uncertainty Avoidance atau sikap manusia meresponse ke ambiguitas, Indonesia berada di bawah Singapore (urutan 1) dan Malaysia (urutan 8). Indonesia berada di posisi 12-13. Ini menyatakan bahwa Manusia Indonesia lebih sulit untuk mengambil resiko dan lebih sulit untuk mengadakan sebuah perubahan.

Dari aspek masculinity atau variable yang yang condong terhadap kekompetenan dan result orientation. Indonesia yang berada di posisi 22 tertinggal dari Singapore (posisi 24) dan Malaysia (posisi 26-27). Jepang dinyatakan sebagai Negara paling kompeten dan result orientation.

(tabel urutan-urutan penelitian diatas dapat dilihat pada link ini)

Budaya Organisasi, Negara dan Korupsi Indonesia

Dilihat, dicari, dimaknai, di timbang-timbang MENARIKNYA NEGARA JUGA ADALAH SEBUAH ORGANISASI! Ada tujuan, ada pemimpin, ada penggerak, ada kas, ada asset, ada investor dan kawan-kawannya. Maka bisa dikatakan Indonesia adalah sebuah organisasi. Dan menariknya lagi penemuan Hofstede (2001) bisa di aplikasikan disini.

Organisasi Indonesia ini bukan organisasi biasa, ini adalah organisasi yang besar dengan potensi besar dan penggerak yang tidak kalah besarnya (baca sensus penduduk per juli 2009 sebesar 240.271.522 orang). Apa lagi ditambah dengan PANCASILA sebagai pedoman menjalankan organisasi, menjadikan organisasi ini seperti sebuah koperasi. Diciptakan untuk kesejahteraan anggotanya.

Namun organisasi yang kental dengan budaya kebersamaan ini rawan untuk berubah wujud jadi kebersamaan dengan konotasi negative yang dikenal juga dengan komunalisme yang sarat berkaitan dengan praktek korupsi. Jika satu orang terjangkit praktek korupsi dan orang ini adalah seorang pemimpin maka dampaknya sangat besar. Mengapa?

Karena dengan budaya kebersamaan yang tinggi dan tingkat penghormatan terhadap yang dituakan sangat mutlak maka bila sang pemimpin terjangkit, maka akan ada kemungkinan juga sang pemimpin memberikan pengaruh buruk kepada yang lainnya. Kemungkinan menolak ada, namun kecil jika mayoritas sudah terjangkit dan akhirnya berlanjut terus.

Jika praktek korupsi menyebar luas dan telah mengakar daging, maka kemungkinan untuk dirubah sangat berat. Hofstede menemukan bahwa manusia Indonesia lebih sulit untuk mengambil resiko dan lebih sulit untuk mengadakan sebuah perubahan dibanding Singapore dan Malaysia. Maka jelas untuk sebuah perubahan maka akan sangat susah. Jika memang harus, maka bukanlah perubahan drastis dan cepat. Butuh waktu. Kalau kronik maka akan lebih lama.

Lalu pada akhirnya orang-orang korup ini akan menjadi penyedot kesejahteraan. Menyedot dan menyedot sehingga hati dan pikiran tertutup. Menjadi tidak kompeten di bidangnya, terbiasa menyedot tanpa memberikan yang terbaik. Mungkin jika terus dibiasakan maka urutan Indonesia akan semakin memburuk, semakin terkenal menjadi tidak kompeten dan tidak result orientation.

Refleksi Sebentar

Dari hasil penelitian Hofstede (2001) dan pendapat pribadi saya, terlihat bahwa kegiatan dengan budaya kebersamaan atau bekerja bersama-sama tidaklah selalu membawa hasil / produk / keputusan / kebijakan yang lebih baik. Mengapa demikian?

Hal diatas bisa di jelaskan melalui konsep psikologis yang menyatakan bahwa manusia lebih senang bersosialisasi (berkumpul, berkawan, berkomunikasi) dengan manusia lain yang mempunyai kebiasaan atau pun pola pikiran yang sejenis.

Jika dalam membuat keputusan, semua orang berpikiran sama, namun ternyata pikiran itu tidak tepat.maka hasil dari keputusan itu adalah tidak tepat. Bahkan ada kemungkinan berakibat fatal.

Lucunya saat ada manusia yang ingin membawa perubahan, kelompok mayoritas lebih memilih untuk menolaknya dikarenakan manusia pada umumnya tidak ingin keluar dari comfort zone atau daerah kenyamanan mereka. Dan si minoritas tersepak karena disepak.

Padahal saat manusia keluar dari comfort zone dengan rencana yang baik dan dilakukan secara konsisten dan bertangung jawab, manusia akan mendapatkan hasil yang tidak terbayangkan sebelumnya. Contoh Singapore adalah Negara kecil, yang sudah dianggap maju, namun Singapore tidak mau diam santai terbuai. Singapore sadar bahwa dia harus tetap berinovasi, mendobrak uncertaintyhingga sampai sejauh ini Singapore tetap melangkah maju.

Lalu bagaimana dong?

Hukum tegakin ! Lah gimana mo ditegakin, karena badan hukum Indonesia saja sudah terkontamiinasi tingkat tinggi. Tidak sedikit hakim-hakim “putih” mencoba mendobrak tradisi buruk ini, namun usaha sia-sia..bagaikan memadamkan api kilang minyak super besar dengan sebuah gayung. Yang ada sang hakim-hakim “putih” terbakar, atau ada juga menjadi arang.

Pendidikan dari kecil! Bisa! tapi kalau hanya mengandalkan pendidikan saja sama saja..jika lingkungan tetap memaksa demikian dan anak murid tidak kuat.maka menconteklah mereka.

OH IYA! HAPUSKAN SAJA SATU GENERASI biar tercipta satu gerenasi baru yang bersih dari korupsi! Apa iya mungkin menunda kelahiran selama satu generasi? Apa sudah siap sekelompok orang “putih” untuk mendidik generasi baru ini?

Cara paling cepat untuk dapat dilaksanan adalah

STOP PRAKTEK KORUPSI DARI DIRI SENDIRI!

Kenapa? karena diri kita sendiri adalah organisasi yang harus kita atur sendiri terlebih dahulu. Atur diri, atur keluarga, lingkungan dan lain-lain

Tanyakan pada diri sendiri..sesuai dengan konteks anda masing-masing..sebagai pelajar, sebagai karyawan, sebagai menteri, sebagai hakim, sebagai ibu rumah tangga dan profesi lain. Karena korupsi tidak hanya mengambil uang rakyat..masih banyak jenis lainnya

Saya korupsi gak yak hari ini ?

Satu hal penting lagi. Ajukan topik “Relasi Budaya Kebersamaan terhadap Praktek Korupsi” kepada para penelitii agar membuka wawasan kita kedepannya

——————————————–

Referensi:

http://www.edwardthall.com/

http://www.geert-hofstede.com/

Brooks Ian (2009). Organisational Behaviour individuals, groups and organisation (4th ed). UK: Pearson Education Limited.

One thought on “Budaya Nasional terhadap Korupsi

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s