Bangkitnya Pluralisme dan Tidurnya Bhinneka Tunggal Ika

Tulisan singkat ini saya dedikasikan kepada orang tua, teman-teman sepermainan, kekasih hati dan Persatuan Pelajar Indonesia HELP University College yang selalu menjadi tempat bertukar pikiran mengenai isu keanekaragaman menggunakan pikiran yang luas.

Tulisan ini mengandung hal-hal yang mungkin dapat membuat anda tersinggung. Kedewasaan, keterbukaan dan pemikiran luas dibutuhkan.
Hebohnya isu pluralisme baru-baru ini

Adalah suatu keprihatinan di saat isu pluralisme menjadi sebuah kontroversi sesaat mantan Presiden Republik ini K. H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggal. Dalam hitungan hari, Pluralisme menjadi sebuah kata yang sangat popular dan booming. Kemudian muncul banyak pendapat tidak setuju, setuju, masa bodo dan lain lain dengan ide dan istilah pluralisme bagi negeri ini.

Setiap orang mencoba mengkritisi dan memberikan masukan dari berbagai cabang ilmu. Termasuk di dalamnya menggunakan agama. Mencoba mendapatkan apa yang disebut keberhasilan dalam berpendapat. Menolak apa yang disebut gagal dalam berpendapat.

Muncul ejekan-ejekan terhadap lawan bicara. Menciptakan kerisauan dalam negeri sendiri. Menciptakan kubu-kubu tersendiri dalam masyarakat. Lupa atas keadaan Negara yang sudah memprihatikan. Tertinggal jauh dari Negara-negara lain. Belum lagi ditambah dengan isu bank century, istana dalam penjara dan lain-lain.

Titik cerah bagi bangsa yang saya baca hari-hari ini adalah bahwa ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) meluncurkan prototype mobil hemat bahan bakar yang diberi nama Sapu Angin 1


Bangkitnya Pluralisme dan Tidurnya Bhinneka Tunggal Ika

UNTUK APA ISU PLURALISME DIPERDEBATKAN!? Lihat semboyan Negara yang kawan-kawan diami. Hanya ada satu kalimat dalam logo Negara kita (baca:PANCASILA) yaitu “BHINNEKA TUNGGAL IKA”.

Datang dari sebuah etiologi lokal, bahasa Jawa, yang mengandung arti “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.Sebuah etiologi lokal, tidak seperti Pluralisme yang datang dari kata plural yang sarat akan etiologi luar. Sebuah etiologi yang datang jauh dari dalam negeri. Di perkenalkan jauh oleh Mpu Tantular pada jaman Majapahit dan Sukarno pada jaman kemerdekaan. Dan sudah pasti lebih jauh dari jaman Gus Dur menjadi presiden.

Mempunyai arti yang luar biasa “TOLERANSI”

Di seluruh negeri terpampang Bhinneka Tunggal Ika, hanya kita lupa makna sejatinya. Bagaimana seseorang menolak adanya keanekaragaman dalam negeri ini disaat jaman majapahit dan Sukarno mereka sudah mencoba mempersatukan negeri ini. Dan tidak sia-sia..Indonesia sudah terjahit menjadi NKRI dengan Bhinneka Tunggal Ika.

Lalu anda ingin menolak ide keanekaragaman tetatpi tetap satu?

Satu hal yang bisa anda lakukan. Keluar dari Negara ini

Gus Dur dan keanekaragaman

Kita semua paham siapa Gus Dur. Sosok pemimpin yang berani dan berpikiran cerdas namun tidak ingin semua dipersulit. Gus Dur mencoba menjalankan Negara sesuai dengan hukum dan dasar Negara dengan sungguh-sungguh.

Apa yang dia maksudkan dengan Pluralisme adalah menghormati keanekaragaman yang ada di dalam masyarakat kita. Toleransi. Karena itulah yang menyatukan Indonesia. Beliau tidak berpikir mengenai ini itu…apakah ini sesuai Agama apa tidak. Toh jika memang menyingung agama, toh tidak ada agama dimana pun yang mengajarkan untuk tidak menghormati dan mencintai sesamanya. GITU AJA KOK REPOT.

“Allah” di Malaysia

Tulisan Bung Nurul dengan judul “ALLAH” di Malaysia adalah sangat baik. Saya sebagai pelajar yang belajar di Malaysia sangat paham dengan apa yang terjadi. Dan itulah kenyataan yang terjadi di negeri ini. Sebuah negeri tumbuh sebagai adik, belajar dari sang abangnya, Indonesia. Beberapa hal dia unggul dari abangnya. Namun beberapa hal abang tetap unggul.

Malaysia baru memperkenalkan apa yang disebut dengan 1Malaysia. Mencoba menciptakan persatuan internal mereka. Sang abang sudah lama kenal Bhinneka Tunggal Ika tapi abang terkadang terlupa dan terjatuh.

Wajar masalah penggunaan nama “Allah” menjadi suatu masalah di Malaysia. Tapi di Indonesia? Seyoganya si abang sudah lebih dewasa..tidak hanya mengenai “Allah” tapi juga dalam menghadapi keanekaragaman.

Malaysia di desak untuk mengadakan transformasi sosial, politik dan ekonomi. Indonesia didesak untuk belajar, mendewasakan, dan meningkatkan social, politik dan ekonomi.

Penutup

Seperti nama jalan di dekat rumah saya Jl. Bhinneka. Disana terdapat berbagai jenis manusia tapi mereka hidup berdampingan dengan damai.

BHINNEKA TUNGGAL IKA… Berbeda-beda tetapi tetap satu.

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s