Belajar dari Gempa (mau kah kita?)

Fakta 2 Lempeng Aktif di Indonesia

Fakta bahwa Indonesia dilalui oleh dua lempeng besar di dunia adalah hal yang sudah saya pahami sejak saya SD-SMP, saya ingat saat guru SD Pak Wartono dan guru SMP Pak Seno menjelaskan mengenai sirkum pasifik dan sirkum meditariania. Kedua lempeng yang aktiv itu selalu menunjukan pergeseran. Saat terjadi pergeseran yang significant, maka akan timbul sebuah gempa. BIla gempa di dasar laut, bisa ada kemungkinan terjadi sebuah Tsunami.

Dari seluruh pulau besar di negeri kita hanya kalimantan yang tidak dilalui salah satu sirkum tersebut. Tak heran bahwa ide untuk memindahkan ibu kota negara ke wilayah ini sempat timbul saat pemerintahaan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno (acaman gangguan alam hanya salah satu dari alasan beliau memilih kalimantan)

Gempa Sumatra Barat / Padang

Gempa yang masih hangat di ingatan kita adalah gempa 30 September 2009 di provinsi sumatra barat. Gempa yang kuat 7.6 SR mengguncang perairan sumatra barat. Mengakibatkan kerusakan yang sangat parah. Hampir semua sudut provinsi tersebut terkena dampaknya. 1115 Orang telah dinyatakan tewas per  20 Oktober 2009, 50.000 keluarga / 1.250.000 orang terkena dampaknya.

Respond Terhadap Gempa Baik Internatsional Maupun Nasional

Begitu banyak aliran bantuan mulai mengalir dari hari pertama gempa sampai detik ini saya menulis tulisan ini. Bahkan di kampus saya HELP University College, KL, Malaysia kami pelajar indonesia mencoba ikut serta denga nberbagai cara, kami mengumpulkan apa yang kami bisa berikan bagi korban gempa disana. Beberapa kampus lain mengirimkan bantuan secara langsung, volunteer ke padang dan lain-lain. Respond sangat baik.

Kembali ke gempa, bantuan sudah mulai banyak datang (kita tidak akan membicarakan masalah distribusi bantuan di tulisan ini), dan teman saya menyatakan bahwa padang mulai membangun, “lix, Padang sudah mulai membangun koq, semua bantuan cukup lengkap dan banyak (sekali lagi kita tidak lihat distribusi lebih dalam, saya percaya ada daerah yang masih sangat butuh distribusi bantuan), mungkin yang sekarang kita butuhkan adalah bahan bangunan”.

Gumaman / Unek-Unek

Saat teman saya katakan mengenai bangunan, saya seperti flashback ke belakang “beberapa tahun silam juga ada gempa di padang, sekarang gempa di padang, foto-foto gedung hancur rata, sirkum pasifik dan meditariania, dan…”

Bagaimana negara besar seperti kita, dengan kepahaman mengenai dua lempengan yang tadi saya sebutkan terlebih dahulu, selalu kebobolan, dan lagi akan dampak besar gempa. Kota padang yang dikatakan hampir rata sekarang mulai membangun. pertanyaannya mau kah kita belajar dari gempa dalam membangun kota yang dapat meminimalkan gempa? HAl tidak mungkin untuk menghentikan gempa. jadi pertanyaannya “Mau kah kita (rakyat, Pemerintah dan siapapun yang ikut serta) belajar dari gempa?”

saya ingat

koran kompas tanggal 7 Oktober, halaman 15 ada artikel mengenai “Ringan, Murah, Tahan Gempa” tulisan mengenai bangunan murah tahan gempa.

koran kompas tanggal 9 Oktober ada artikel mengenai “400 Mandor Siap Bangun Rumah Tahan Gempa” tulisan mengenai kesediaan 400 mandor untuk membangun rumah tahan gempa

dan beberapa tulisan lainya seperti bambu sebagai alternative bagunan tahan gempa.

Bangunan Tahan Gempa, Regulasi Pemerintah Daerah

Ini yang kita perlukan. sebuah inovasi. bagian dari belajar dari pengalaman..bagaimana kita harus dapat memutar otak agar kerusakaan tidak separah yang telah berlalu. Murah, Mudah, Tahan Gempa.

Apakah ada aturan pemerintah (sebagai contoh pemerintah Sumbar) agar mengharuskan setiap rumah atau gedung yang akan dibangun harus lulus izin sertifikasi tahan gempa. Hal ini perlu agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

Belajar dari Jepang

Siap kita untuk belajar dan praktekannya? Mari kita lihat ke jepang. Negara yang secara total dilewati oleh lempengan yang sama dengan Indonesia. Gempa dan Tsunami adalah pemandangan biasa di Jepang, dengan kekuatan yang sama..bagaimana Jepang dapat bertahan dari gempa? Karena mereka belajar, dan meningkatkan terus menerus.

Mereka bangun gedung tinggi anti gempa, dengan system hidrolik dipermukaan bawahnya. teknologi mahal? OK kita lihat ke rumah-rumah mereka. Rumah sederhana pun menerapkan teknologi tradisional yang tahan gempa. Dengan biaya murah tentunya.. Mari kita belajar dari pengalaman seperti mereka.

Memang tidak dipungkiri, bukan berarti jepang selalu selamat dari gempa..tapi paling tidak mereka dapat meminimalkan.

“Poor infrastructure, warning systems still being refined and improved, and often shoddy construction in Sumatra as in much of Indonesia mean seismic and volcanic events there frequently cause more deaths and damage than the equivalents in strength in more developed countries such as Japan” oleh Jerry Norton

“Kurangnya infrastruktur, sistem peringatan yang masih terus disempurnakan dan ditingkatkan, dan seringnya konstruksi yang kurang baik di Sumatra seperti di sebagian besar Indonesia, mengakibatkan seismik dan gunung berapi di sana sering mengakibatkan lebih banyak kematian dan kerusakan daripada di lebih banyak negara-negara maju seperti Jepang yang mengalami kekuatan yang sama (gempa).

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s