Catatan dari Selatan, Eksotisme Jawa yang Mulai Tergerus

Jakarta-Jogjakarta

Kita orang pergi ke Jogja bukanlah tanpa sebuah alasan. Masing-masing dari kita punya tujuan dan alasan yang berbeda-beda. Ada yang ingin kuliah, bekerja, berjumpa sanak saudara dan ada pula yang tanpa tujuan jelas, seperti saya. Hanya dengan keingginan yang kuat untuk menjelajahi kota Jogja dan melihat kehidupan masyarakat Jogja akhirnya saya berangkat kesana.

Dengan moda angkutan rakyat, Kereta, ku mulai perjalanan dari ibu Kota Republik ini ke Jogjakarta.  Kutinggal kan Ibukota ini yang mulai terisi penuh dengan jajaran gedung-gedung tinggi tempat sebagian kecil penduduk republik ini bekerja, dengan menyusuri sebuah jaringan rel kereta atas yang membelah ibu kota, dari wilayah gambir hingga Jatinegara, seiring waktu berjalan dan roda gerbong kami berputar, suasanapun berganti.

Dari hamparan gedung bertingkat nan kekar dan kokoh berubah menjadi perumahan kumuh disamping rel kereta. dari Jalan aspal yang hitam hingga jajaran jalan setapak sawah-sawah kecil.  Rasa-rasanya semakin keluar dari Jakarta. Luas sawah menjadi lebih besar. Seorang anak muda disampingku mengajakku membunuh waktu. Namanya Hery, Made Hery Sanjaya Putra. Dia seorang pelajar di UGM dari Bali. Dia banyak mejawab pertanyaan ku tentang jogja. Paling tidak aku sekarang sudah ada gambaran sedikit tentang Jogja. Maklum sudah lama tidak ke Jogja.  Hery cukup dapat membunuh waktu ku. Hingga ia tertidur, hilanglah teman ngobrolku. Kembali ku lihat luar jendela gerbong ku. Aku lupa berapa jauh dari Jakarta hingga Jogjakarta. Aku rasa ada 500KM tidak lebih dari 600 KM kurasa.

Pemandanganannya monoton. Sawah yang luas, namun gersang, sedikit yang tumbuh hijau sebagian besar bewarna kuning kering. Aliran irigasi apa lagi. KOSONG. Aku rasa memang kekeringan tahun ini lebih parah., namun pihak media belum sampai mengabarkan berita ini ke ibukota Republik. Ibukota masih di penuhi cerita sekitar politik dan hasil pemilu. Cerita yang toh pada akhirnya tidak menyentuh aliran irigasi yang kering ini. Karena rasa-rasanya mereka orang-orang yang ada di dalam cerita diatas adalah orang  conservative yang hanya percaya akan alam (HUJAN akan datang bulan-bulan besok) dan sebuah lagu (yang liriknya kira-kira seperti ini “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkah kayu dan batu jadi tanaman, bukan lautan hanya kolam susu” oleh Koes Plus)

Hanya ada satu dua hal yang menarik perhatian lebih dari dalam gerbongku. Pertama adalah gedung-gedung, Jembatan peninggalan belanda, Kedua adalah kelengkapan instansi masyarakat setempat, adanya pendopo tempat musyawarah yang mana menunjukan kebiasaan musyawarah masyarakat desa setempat tadi.

Boleh percaya boleh tidak di sekeliling stasiun pasti ada satu hingga tiga atau lebih rumah tua peninggalan belanda. Rumah-rumah yang mempunyai ciri khas tersendiri. Kekar, alur ventilasi yang bagus dan bergaya colonial masa itu. Ciri-ciri yang percis dikatakan oleh temanku yang belajar ilmu arsitektur di Bandung. Tak bosan saat aku melihat suasana semacam ini. Suasana peninggalan zaman dahulu yang eksotis. Sebagian besar tidak terawat. Maklum, mungkin sudah menjadi tanah Negara. Tidak ada ada yang berani menggunakan lahannnya.  Mungkin-mungkin dulu itu tempat para pegawai stasiun kereta (aku yakin 80% demikian).  Dari bentuk stasiun kita bisa tahu bagaimana pola kehidupan masyarakat pada saat itu. Contoh Cirebon. Stasiunnya besar, sudah pasti dulu kota ini sempat ramai dan banyak ditinggali oleh orang belanda. Mungkin sibuk sebagai tempat perkebunannya.

kemudian aku juga menemukan water tower atau menara air jaman belanda. Ada 4 tangki yang tersebar di beberapa titik. Bentuknya semua sama, mungkin karena belanda hanya pakai satu model desain untuk menara air ya. Menara air ini mirip dengan menara penjagaan. Masih kokoh berdiri.

Hal kedua adalah keberadaan pendopo. Pendopo yang terbentuk dari bebarapa tiang fondasi dan sebuah atap yang khas.  Kalau tidak salah itung ada 4 buah selama perjalananku. Semua bentuknya sama. Lucu dan khas. Itulah kebudayaan kita yang mulai tergerus, musyawarah.

Jogjakarta / Kota Jogja

Sesampainya di Jogja aku merasa senang dan lega. Ingin segera ku ambil kamera dan mengambil beberapa foto untuk merekam kecantikan stasiun ini. Namun sayang, tak jadi, timbul rasa kesal dan sedih, karena tampak depan stasiun ini sudah mirip dengan stasiun kota di Jakarta. Dibumbui oleh iklan produk rokok raksasa.  Yang aku rasa sudah menjadi penyokong dana pemeliharaan stasiun KA di Indonesia. Karena di semua stasiun ada iklan produk mereka (maaf klo salah, tapi katakan benar jika saya tidak salah).

Keluar stasiun ku pasang raut muka sok tahu dan cara berjalan yang percaya diri. Mencoba menggunakan metode seakan-akan aku adalah orang setempat agar aku bisa keluar dengan selamat tanpa ditarik-tarik calo taksi atau ojek. Beberapa orang menawari ak taksi. Ku bilang dengan tenang “saya mao ke depan saja. Dekat”. Aku keluar dengan selamat dan cepat tanpa harus berargumen panjang. Beberapa orang dibelakangku terjebak dalam kelilingan orang-orang itu. Langsung aku mengarah ke halte bus transjogja, mode bus modern sejenis dengan TransJakarta namun bentuk fisiknya lebih ramping dan sederhana, tapi cukup efektif dan tidak terjebak macet. Keramahan pun mulai terasakan, sang penjaga halte menanyakan tujuanku. Ku jawab dia dengan sopan “tidak tahu..” hahaha…dia ikut tertawa. Dia Tanya  kepada ku sekali lagi “loh koq bisa tidak tahu? Yasudah mari masuk”. Tertawa sendiri di dalam hatiku.

Kucari peta kota itu. Kucari hotel tempat untuk menginap. Kupilih hotel dengan bentuk tradisional di selatan alun-alun.  Tenang. Kuajak bicara orang-orang hotel, sambil merancang untuk perjalanan besok.

Esok hari pukul 6, aku langsung bangun dan mandi. Ku tinggalkan hotel dibelakang. Ku coba masuk ke wilayah kraton pagi-pagi hari itu. Aku mengarah ke tamansari. Masih tutup. Namun banyak orang setempat yang duduk-duduk sambil bercanda, ada yang menyapu halaman, ada yang menyiram tanaman. Semua layaknya suasana damai di cerita-cerita. Ku jalan telusuri jalan menuju taman sari. Setiap ku tatap muka orang disana. Terlempar anggukan dan senyuman dari mereka, yang membuat ku otomatis melakukan hal yang sama. Masih tutup, nanti jam 9 baru buka, jawab seorang pemandu lokasi itu. Ku foto-foto beberapa sudut. Bingung mao buat apa di pagi ini. Karena kata beliau, kesibukan di kraton mulai berjalan sekitar pukul 9. Ini baru jam 7.  Hmm.. beliau memberitahuku tentang tempat makan soto yang enak dekat situ. Kemudian aku ditawari untuk diberi tumpangan. Sejalan dengan dia. Kebetulan orang itu ingin beli pulsa. Dengan motornya ku diantar sarapan pagi SOTO BU CIP, di timur keraton. Dia beli pulsa. Selesai makan. Dia datang lagi. Menjemput ku kembali. Kukatakan dengan dia untuk turunkan  aku di alun-alun utara. Dia pergi sesudah itu. Ak berencana merekam kehidupan masyarakat jogja di pagi hari.

Namun mungkin karena sedang puasa dan hari sabtu. Toko-toko belum ada yang buka, pasar masih sepi. Pasar barang loak pun bernasip sama.  Hingga akhirnya aku hanya berputar-putar. Kudapati seorang pengendara becak tidur sambil menunggu penumpang di tepi jalan.di depan gedung pos kota Jogja.

Kuputuskan ke prambanan, melihat keindahan bangunan yang konon merupakan bangunan paling tinggi di eranya (ini juga menurut hasil belajar dari temanku di Bandung).  “Hebat” adalah kata yang ada di dalam hatiku. Bagaimana mereka dulu membangun bangunan ini.  “Kejayaan masa lampau” adalah hal kedua yang ada di dalam hatiku. Sudah berputar-putar dalam komplek itu, ku kembali ke hotel. Menggunakan bus TransJogja sekali lagi. Aku suka menggunakan bus ini. Harganya terjangkau dan orang yang menggunakannya bervariasi, kulihat berbagai suku dari beberapa wilayah Indonesia (sebagai contoh yang ku ingat, Aceh, Batak, Jawa, Manado, Timor, Irian). Teman baru ku yang sudah berpisah di stasiun, Hery, sempat mengungkapkan bahwa Jogja khususnya UGM adalah melting pot orang Indonesia. Semua jenis orang Indonesia ada disana. MENARIK.

Sesampainya di hotel ku masuk ke hotel, di sambut oleh penjaga hotel yang ku ajak bicara malam kemarin. Dia terlihat ngantuk dan bersiap tidur rasa2nya. Ku pergi mandi. Lalu duduk di ranjang sambil memikirkan rencana kedepannya. Aku putuskan untuk cek tiket kereta untuk hari esoknya.

Aku jalan dari selatan alun-alun hingga ke stasiun tugu. Kumasuki kampong-kampung di dalam keraton. Sungguh mempesona kehidupan mereka di dalam tembok keraton. Mereka penuh senyum. Benar kata orang yang pagi-pagi yang mengantar aku sarapan, “Bahwa orang yang hidup di dalam tembok keraton adalah orang yang jauh berbeda dengan yang tinggal diluar tembok keraton”. Ku berikan senyuman, mereka balas senyuman. Kuberikan salam, diberikan balas salam. Kutanyakan jalan, mereka menjawab. Keluar masuk gang. Melihat kehidupan. Unik. Budayanya masih kental. Lalu aku tersesat setelah keluar masuk kampong disana. Ada sebuah distro baju dagadu yang terlihat kosong, ingin kucari orang yang bisa kutanya jalan. Namun tiba2 munculah seorang pria, dengan stelan gaya anak PUNK. Aku langsung tanya jalan dengan dia. Dan sekali lagi, memang budaya, dia menjawab dengan sopan dan menunjukanku jalan (sambil menunjukan jalan dengan jari jempolnya, cara khas dan sopan daerah setempat).

Sesampai di stasiun Tugu, Tahu tiket yang kucari tidak ada disana, kulanjutkan lagi ke stasiun berikutnya,stasiun yang menjual tiket ekonomi. Kuambil beberapa foto selama perjalanan. Lumayan jauh. Sampai disana tiket untuk besok hanya boleh di pesan hari eskonya juga. Jadi saya harus datang hari esoknya. Sebelum meninggalkan loket. Seorang anak memanggil aku. Dia bertanya asal ku. Kujawab “dari Jakarta”. dia berkata “SAMA DONG”. Ternyata mereka juga dua anak Jakarta yang luntang luntung juga di Jogjakarta. Mereka katakana bahwa aku gila. Karena aku jalan cukup jauh. Mereka komentari aku dari rambut hingga sandal jepit. Kami lanjutkan pembicaraan di luar stasiun . pembicaraan lumayan panjang di selingi tawa akan hal yang lucu bagi kami. Dunia memang kecil. Ah panjang sekali pembicaran kami kalau aku harus tulis disini. Nama mereka adalah Albert dan Lukas. Albert kuliah di Jogja, Lukaslah yang luntang luntung macam aku di Jogja. Akhirnya kita putuskan untuk makan malam di daerah malioboro / daerah malboro (Lukas malas mengeja malioboro, sehingga dia memplesetkan menjadi malboro). Kami berjanji bertemu di depan gedung kantor gubernur. Cerita punya cerita, Lukas akhirnya memilih berjalan dengan aku. Albert naik motor untuk berjumpa dengan temannya terlebih dahulu. Kita saling bercerita, aku kenal SMA dia, dia jg kenal dengan SMA aku. Bedanya dia berpikir sekolahku adalah sekolah elite, aku berpikir sekolah dia adalah sekolah yang pembuat masalah. Namun agak-agaknya perjalanan sekitar 45 menit yang diisi dengan pembicaraan banyak hal mengubah semua persepsi di otak kita. Kemudian kita lanjut dengan makan nasi kucing. Bukan di jalan raya. Kami harus menuju gang kecil deket jalan raya. Agar dapet harga yang sesuai dengan kantong kita. Sehabis makan kita lanjutkan pembicaran dengan sang penjual. Lucu orangnya, humoris. Kuceritakan pengalamanku di Malaysia. Kita saling berbagi pengalaman. Saat aku berbicara tentang inul, dia langsung menjadi sangat bersemangat dan melakukan goyangan inul di depan saya dan teman-teman..hahaha..lucu.

Dia minta aku ajarkan bicara dengan bahasa melayu. Kucoba semaksimalku. Ada satu pesan yang dia ucapkan yang selalu menempel di ingatanku. Katanya ini adalah pegangan orang di Jogja “Kita orang, harus lebih sering menggunakan kata KITA jangan SAYA, karena saya adalah sombong, dan kita lebih bersifat bersama-sama, gotong royong. Jauhi sikap sombong” hmmm.. begitu pesannya. aku sudah pasti akan datang lagi kesana bila ak ke JOgja lagi. Kan ku ajak temanku si Albert ketempat itu lagi. Karena kita tanam saham disana. Modal awal Rp. 100. Siapa tau nanti ada bunganya. Kami pun meninggalkan gerobak tempat makan kita dengan humor itu. Semua senang.

Aku dan Albert temani si Lukask beli sandal. Lalu mereka temani aku beli  tas untuk tanteku. Lalu kami berpisah. Mereka kembali ke rumah Albert, aku kembali ke hotelku. Sekali lagi melewati kampung di dalam kraton.

Jogjakarta, Purwokerto / bersiap-siap dioper

Pagi pagi buta jam 6 ku bangun, ku ambil bus ke arah terminal bus giwangan. Mencari bus ke Jakarta. Sialan! di republik ku sendiri ak kena calo. Aku perlu membayar lebih untuk naik ke atas bus. Kupikir bus ini akan segera membawa aku ke Jakarta. Dia ternyata harus mengoper ak di Purwokerto. Kota transit bus.  Kuterima saja, kucoba jalani layaknya rakyat setempat yang sering dikerjai oleh teman serepublik ini. Busnya cukup nyaman, walau Ekonomi namun ber AC. Sang supir yang cukup tua (aku panggil dia mbah) mengajak aku membunuh waktu. Dimulai dari saran bagaimana tidak terkena calo, hingga percakapan tidak penting. Dalam perjalanan Jogja ke Purwokerto ada kemungkinan 50x panggilan masuk ke Handphonenya. Sang kenek pun sama. Mereka saling berkoordinasi antara satu bus dengan bus  yang lain, lewat handphone. Hingga-hingga aku kawatir dia tidak konsentrasi mengemudi. Setiap bus kami masuk ke dalam sebuah kota. Masuklah seorang pemusik jalanan ke bus kami. Maklum bus kami ekonomi, jadi perlu berhenti-henti untuk menarik penumpang, sang pemusik jalanan pun tertarik masuk.

Pemain musik boleh berbeda, namun musik yang dimainkan rata-rata sama. Lagu koes plus yang KOLAM SUSU, IWan Fals menjadi andalan. Mereka hanya memainkan dua lagu paling tidak, kemudian turun, mencari bus lain. Hanya ada satu group pemusik jalanan yang aku sukai. Mereka membawakan musik entik, Keroncong dengan alat-alat modern. Bagus, suka aku. Tak apalah ku berikan selembar uang Rp.1000 walau ak sedang bokek karena calo tadi.

Kuhitung beberapa orang gila yang berjalan di jalur selatan. Hmm..ternyata banyak orang stress dan tidak kuat juga, hingga terpaksa mereka harus lepas di jalanan dengan gayanya yang berantakan dan hitam.

Kulihat seorang istri mengantar suaminya sampai ujung gang kampungnya. Menunggu hingga sang suami masuk bus dan jalan agak jauh. Kulihat sekelompok anak mengantar (mungkin bapaknya) masuk bus. Begitulah nilai-nilai kesopanan yang kulihat.

Indah, kulihat banyak masjid, aku juga lihat paling tidak ada satu gereja di setiap kota-kota kecil itu. Hari itu hari minggu, mereka habis kebaktian di gereja.

Tetap sama, setiap kulewati kota-kota yang sudah ada dari sejak jaman belanda selalu kucari jejak yang masih tersisa. Menarik buat aku. Terasa masuk ke jamannya.

Sesampainya di Purwokerto, aku di oper ke bus lain. Saat di atas bus, sang kondektur meminta aku untuk bayar lebih, Rp.15000 untuk busnya. Ku katakan padanya “persetan, jangan kau minta lagi uang dari ku” katanya “kalao tidak mao, silahkan naik DAMRI. Yang tidak tahu kapan jalannnya”. Dengan pasti aku katakan kepadannya “bawa kemari itu bus DAMRI. Biar aku naek itu Bus”. Dia hantar aku ke bus DAMRI. Busnya tidak ada AC, tidak masalah bagiku. Kulihat si kondektur memberikan uang operan dari bus sebelumnya ke kondektur DAMRI. “Sial! Di republikku sendiri aku merasa tidak nyaman, aku warga Negara ini saja diperlakukan demikian, pantas saja di terminal ini tidak ada satupun orang kulit putih.  Hanya segerombolan-segerombolan kelas si berat. Macan kertas, polisi atau dishub? Tidak ada. Mereka hanya menunggu di loket retribusi parker bus”.

Kira-kira sudah jam 12. Bus DAMRI ku segera berjalan. Baru jalan 5 meter dari tempat parkir. Bus itu berhenti. Tidak mau lanjutkan perjalanan karena penumpangnnya kurang. Hanya ada 7 orang di dalam bus. Penumpang diturunkan, si macan kertas bertubuh besar masuk. Dengan gaya macam bos “mari pindah ke bus Anggrek”. Kami bertujuh pindah. Naek ke bus AC, dengan TV didepannya. Beberapa terlihat senang. Tidak pada ku. Jam 1 sebelum berangkat, sang macan kertas masuk, dan menagih uang tambahan. Beberapa orang senasip seperti ku dari bus Damri menolak. Aku melakukan hal yang sama. Ku panggil pria DAMRI yang lusuh, terlihat pasrah dia. Dia si kondektur. Dimaki-makilah dia oleh orang seperjuanganku. Meminta ganti rugi, dan menolak menambah uang. Perdebatan panjang. Aku pun tidak terima. Tapi akhirnya karena berbagai pertimbangan, ak naik juga. Ku tambahakan 10.000 dari 15.000 yang diminta. Kesal dan dongkol. Melihat dompet ku yang sekarang kosong. Hanya tinggal 3000 Rupiah. Selagi mencoba menghibur diriku, tiba-tiba seorang ibu yang sama nasipnya seperti aku menawarkan uang pecahan Rp.20.000. Ia menawarkan uang itu karena ia merasa simpatik dengan apa yang aku alami. Tapi tidak kuterima akhirnya uang itu.

Tunggu apa lagi, jalankan busnya! Tebak apa yang ada dari bus yang perlu aku bayar extra itu? Disetiap bangku atasnya terdapat lampu baca, kemudian AC yang cukup lalu adanya satu TV di dekat pak Supir. Wah lumayan. Tapi semua sirna, tidak lama setelah sang supir naik. Dan bersiap mengemudi bus kami, sang kondektur dengan gagah mematikan TV di dalam bus kami. Kenapa harus dimatikan?

Purwokerto, Jakarta / Kisah di jalur irigasi

Tancap gas di mulai, sang supir membawa bus anggrek kami keluar dari terminal dan menelusuri jalan kota purwokerto. Terasa tua kota itu. Keluar dari kota, mulai terlihat kembali sawah-sawah yang kulihat dari jendela kereta saat perjalanan pergi. Bus melaju sangat cepat dan terkesan agak sembrono. Tiba-tiba bus ku itu hamper masuk ke sawah. Ban kami berbunyi seperti tergelincir, sudah yakin bahwa ban belakang bus kami itu sempat turun dari jalur yang tepat. Membuat sebagian besar orang yang duduk di belakang teriak dan memaki sang supir. Bau solar tercium, aku rasa ada yang tumpah. Bau telur tericum, aku rasa ada yang pecah. Bunyi ayam terdengar, aku rasa ada yang membawa ayam.  Semua terlihat lebih siaga setelah itu, tidak ada yang tertidur. Sang supir menjadi siaga, sadar bahwa kinerja dia diawasi oleh para republikan sungguhan Negara ini. Tidak ada yang terlintas di pikiranku untuk marah saat ban belakang kami keluar jalur. Tidak ada rasa marah. Aneh. Saat yang lain memaki, aku hanya diam. Mungkin karena aku tidak terlalu kena banyak dampak.

Ternyata pemandangan dengan bus lebih indah daripada naik kereta. lebihbanyak pola kehidupan masyarakat yang bisa di amati. Memang jalannya kecil, tapi lumayan, ada bonus pemandangan. Aku ingat saat bus jalan tepat di samping jalur irigasi yang cukup lebar. Hmm… suasananya. Tak lama kemudian aku dengar suara aneh, aku harap yang  lain juga mendengarnya. Suarana aku yakin dari dalam bus. Sekitar 15 menit kemudian yang lain terlihat mulai sadar. Supir mulai memanggil si kondektur. Mendapat bisikian untuk memberhentikan bus. Sang supir pun menurut. Tak lama sang supir berkata “AC-nya meleduk”. Yang lain “aaaa….”, “ Pir kananin, deket pondokan tu…”

Saat ini aku tidak teriam, aku melirik ke luar jendela. Kulihat dengan jelas sebuah pemandangan yang sungguh elok. Kulihat saluran irigasi yang mengalir dengan di temani beberapa orang setempat yang sedang memancing dan menggembalakan sapi-sapinya. Kemudian ku lirik ketempat duduk para orang yang senasib dengan ku. Kami saling melihat dan tertawa. Tak lama, setelah kusiapkan tas ku, ku putuskan untuk turun dari bus dan menunggu di pondokan. Ibu-ibu itu berkata “mas mao turun disini?”. Dengan santai aku balas “iya, nunggu dibawah aja, lumayan ya bu, nambah 10.000 tapi dapet petualangan”. Mereka tertawa. Kulewati beberapa pecahan telur asin, beberapa jengkal bekas minyak tanah yang tumpah, dan kulihat dua keranjang Ayam. Tepat tebakanku. Ada telur pecah, bensin yang berceceran, dan ayam. Senang.

Banyak yang turun, mencoba membantu sang supir. Aku malah terdiam duduk dibawah pondokan. Melihat pemandangan yang hebat ini. Kira-kira itu pukul 4 sore. Bayangkan indahnya situasi kami. Kira-kira bisa dikatakan kami berada tepat di tengah-tengah sawah. Kiri kami adalah saluran irigasi, kanan kami adalah pendopo. Kami ditemani oleh sapi-sapi yang digiring oleh seorang penggembala, bebek-bebek yang digiring mengantri oleh bu Tani, beberapa orang mancing yang melihati kami. Tak lama lewatlah seorang bocah kecil dengan menggiring kerbaunya. TEPAT SEKALI dengan imajinasi masa kecilku. Kulihat bawah, dekat dengan kakiku, kulihat hanya rumput kuning di kelilingi tanah kering. Kulihat ke atas kulihat bendera merah putih republik ini berkibar. Tiangnya diikat di salah satu fondasi pondokan kanan kami. Berkibarlah merah putih…

Kami orang tidak sekarat. Kami saling berkecukupan. Salah satu seorang dari kami memberikan ak sebotol mizone. Kemudian mereka berencana menukar mizone ku dengan aqua. Tapi akhirnya mereka memberikan aku keduanya. Aku tidak tahu kenapa mereka sangat perhatian. Mungkin karena merasa sepenanggungan? Tiba-tiba aku sadar, aku pasti bisa bantu si supir. Kudatangi si supir. Ku katakana padanya “Mas, apa yang bisa saya bantu?” dengan kesal si supir menjawab “apa?”, kutanya lagi “mas apa yang bisa saya bantu?”. Setelah itu dia melihat saya dan kemudian menjawab dengan baik “ah tidak apa, ini bentar lagi bisa koq”. Benar bus kami jalan lagi.

Ada 1 km. Bus kami ambil penumpang di pinggiran irigasi. Si penumpang baru duduk disebelahku. Ku mulai bicara dengannya, dengan harapan dapat membunuh waktu ini. Namanya Agus Santoso  atau Yopie,  seorang nelayan, dari tegal. Hanya sekotak rokok dan dompet yang ada padanya. Macam orang belibur saja. Tujuannya sama dengan aku. Jakarta. dia bekerja di muara angke. Kutanya kenapa tidak berlayar di selatan saja. Dia jawab dengan alasan budaya. Kita tahu semua, bahwa selatan adalah dibawah pengaruh ratu, agak susah disana airnya tinggi. Di Jakarta gampang. Pendapatan dari Jakarta lebih besar dari di selatan.  Demi ekonomi keluarga, ia tinggal keluarganya untuk kira-kira 2 bulan lamanya.

Suasana berubah, kiri kanan ku sekarang menjadi lahan panen bawang. Banyak sekali bawang yang telah di panen. Semuanya di letakan di pinggir jalan. Berharap sang tengkulak akan dating dan menggambilnya. Panen raya. Air irigasi di pompa oleh para petani menggunakan pompa motor.

Tak lama setelah bawang kemudian aku lihat ada mobil patrol jalan raya di depan bus kami. Mobilnya parkir di sisi jalan. Saat bus kami lewati mobil patrol itu, si Polisi tidur pun membunyikan klaksonnya. Bus kami dengan otomatis minggir. Berhenti sebentar. Sang kondektur dengan cekatan (atau sudah biasa) turun dan mendekati mobil patrol itu. Kemudian masuk kembali dan berkata kepada supir “buru-buru” .  teman baru ku bilang “biasa, polisi, cari makan. Lumayan dapet 50.000, kalau bus penuh bisa dapet banyak, tapi kan bus kita tidak kelebihan penumpang, jadi murah.. klo naek bus kyk gini sering kena, beda dengan patas”. Hehe..gak beda jauh dengan di ibu kota republiknya, kelakuan polisinya mirip.

Suasana mulai monoton, hingga kulewati beberapa stasiun kereta api, kulihat bangun2an belanda, kemudian pabrik tua yang terbengkalai.

Kemudian langit mulai berganti gelap, dan aku terlelap…

Satu yang kusuka dari perjalanan bus ini, saya bayar lebih untuk mendapatkan petualangan… Lets get lost. hahaha

3 thoughts on “Catatan dari Selatan, Eksotisme Jawa yang Mulai Tergerus

  1. Ping balik: Nat Geo Advanture and my value « Parsimonia

Aha! Why don't you leave a comment?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s