4 Alasan Memilih Naik Kereta LRT di Kuala Lumpur

Illustraion: Rapid KL LRT 4 coaches (from google)

Tidak sedikit orang Indonesia yang sudah berkunjung ke Kuala Lumpur (KL). Ada yang datang untuk liburan, ada juga yang datang untuk berbisnis. Dalam kunjungan yang relative singkat ini, mayoritas kesan pertama terhadap KL adalah baik, baik dari sudut pandang tata kota, kebersihan, kemacetan dan juga moda transportasi yang manusiawi. Namun bagi para pelajar Indonesia, pekerja dan pemimpin yang sedang berdinas lama, gambaran KL agak berbeda.

KL juga ternyata ada kemacentan lalu lintas dan dapat ini juga dapat membuat stress para pengguna kendaraan bermotornya. Maklum kini jalanan KL telah disesaki oleh kendaraan pribadi yang di dorong oleh kenaikan jumlah masyarakat golongan menengah di Malaysia (terutama di KL dan sekitarnya) dan angsuran mobil nasional yang relative sangat menggiurkan.

Macet di Kuala Lumpur

Namun demikian TETAP! KL mempunyai solusi yang bisa diandalkan, solusi ini walau kecil, namun “cabe rawit”, kecil-kecil namun PEDAS. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis, Kereta Light Rapid Transport Rapid KL masih tetap paling dapat dijadikan solusi (Selain Monorail KL, dan kereta KTM komuter).

“Memang kenapa sih dengan LRT Rapid KL? Kenapa dijadikan andalan?” Jawabannya ada di bawah ini. Menurut penulis ada 4 Alasan yang paling utama di samping tidak terjebak macet dan banyak lagi alasan berdasarkan pengalaman tiap-tiap orang.

Beberapa kenyamanan di LRT Rapid KL

Nyaman (Bersih, Ketersediaan Akses Bagi Penyandang Cacat, Praktis dan Sejuk)

Walau jalurnya belum serumit London Underground dan Singapore MRT, RAPID KL LRT tetap dapat menawarkan kenyamanan bagi para commuter. Kenyamanan ini dapat dilihat dari gambar diatas dan di pahami dibawah ini.

  1. Bersih. Secara umum baik kereta dan stasiun LRT di KL adalah bersih dari sampah dan rokok. Terima kasih kepada kesadaran dan aturan yang telah ada (bisa dibaca tulisan Pak Andika Kompasiana dulu dulu).
  2. Penting dan bukan trend adalah ketersediaan akses bagi para penyandang cacat, bagi para tuna netra lantai stasiun mempunyai motif dan corak yang berbeda, ada permukaan yang menonjol atau pun bergaris yang sangat mudahkan tuna netra mengenal betul arus keluar masuk ke stasiun dan ke kereta. Bagi para pengguna kursi roda, stasiun dapat di capai dengan tanjakan dan lift yang sangat membantu untuk akses ke stasiun dan kereta. Disamping itu semua, didalam kereta disediakan kursi bagi para penyandang cacat.
  3. Praktis. Kereta LRT sangat banyak penggunanya, dan adalah sangat membuang waktu jika harus harus mengantri di loket untuk membeli tiket. Oleh karena itu Rapid KL LRT(dan juga banyak diterapkan di transport KL lainnya) juga menerapkan system pembelian tiket mesin otomatis dan system kartu Touch n Go (sentuh dan pergi), tingat sentuh kartu anda ke sensor dan pintu otomatis terbuka. Bagi para pengguna kartu ini tidak perlu antri lama dan lewat gerbang yang biasa, karena ada gerbang khusus bagi mereka. Lihat gambar diatas yang bewarna kuning, sebagai gambaran gerbang khusus pemilik kartu touch n go yang sangat mudah di dapat.

Waktu yang Terpantau

Di tiap-tiap stasiun terdapat layar pengumuman yang secara terus menerus meng update waktu kedatangan kereta, jadi tidak perlu kawatir jam berapa kereta akan datang. Karena dapat dipantau terus menerus (kecuali terjadi kerusakan sistem). Menurut pengalaman penulis, kereta LRT juga mempuyai ketepatan waktu dalam perjalanannya. Hal ini sangat membantu dalam manajemen waktu untuk pergi dari satu titik ke titik lain.

Terintergrasi

Terintergrasi disini sama dengan konsep yang sedang di lakukan di Jakarta. Jadi pengguna tidak perlu repot-repot jalan jauh untuk pindah jurusan, ganti moda transportasi atau masuk ke dalam gedung tujuan. Karena semua terkoneksi oleh jembatan, transport lain ataupun kanopi pejalan kaki.

Daya angkut tinggi

Rapid KL LRT per harinya diperkirakan mengangkut 326,095 commuter sepanjang dua rute yang tersedia saat ini. Namun dengan proyek perpanjangan dan penambahan jalur yang sedang berlangsung RAPID KL MRT (beberapa tahun lagi namanya akan berganti dari LRT menjadi MRT atau Mass Rapid Transit) mengantipasi 400,000 commuter baru perharinya. Banyak bukan?

Bayangkan berapa banyak pergerakan manusia dari satu titik ke titik yang lainya dan bayangkan berapa banyak karbon emisi yang dapat di tekan. Dan berita baiknya adalah, tidak ada penambahan kendaraan di jalan.

Dengan 4 alasan diatas maka itu tidak heran 326 ribu orang selalu tergantung pada moda satu ini.

Jadi bagaimana Jakarta kita sebagai ibu kota republik terbesar ke empat didunia? Layak-kah Jakarta kita mempunyai transportasi yang manusiawi? Layak-kah pemerintah terus mendukung peningkatan kualitas dan penambahan sarana transportasi yang ada? Layak-kah kita meminta transport layak?

Sekedar tambahan, transportasi Jakarta juga ada positif nya. Paling tidak Jakarta punya ojek motor yang juga sangat efisien dan tidak jarang pengemudinya menjadi teman ngobrol yang ramah. Namun apakah ojek dapat turut mengunragi jumlah kendaraan di jalanan? Layak-kah kita mendapatkan transport publik yang manusiawi dan jangka panjang?

Atau kita memperbaiki mental kita terlebih dahulu sebagai commuter?

Salam

Felix Kusmanto

Tulisan ini juga di publikasikan di blog kompasiana saya http://www.kompasiana.com/felixkusmanto

About these ads